Ada Kafe di Kuningan yang Diduga Sediakan Penari Bugil dan PSK

oleh -7.754 views
Audiensi antara Formasi dengan DPRD dan dinas terkait di gedung dewan setempat, Selasa (28/1/2020)

KUNINGAN, (SGOnline).-

Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Anti Kemaksiatan (Formasi) kembali mendatangi gedung DPRD Kabupaten Kuningan, Selasa (28/2/2020), meminta ketegasan pemerintah daerah terhadap kafe-kafe nakal.

Tuntutan yang digulirkan Formasi adalah menutup kafe liar yang beroperasi selama ini. Pasalnya, ada kafe yang menyediakan berbagai macam minuman beralkohol, bahkan menyediakan pekerja seks komersial (PSK). Oknum pengelola kafe tersebut jelas melakukan penyimpangan norma dan tidak sesuai dengan Perda Pariwisata tahun 2013 dan Perda Miras tahun 2014.

Audiensi yang dihadiri unsur pimpinan DPRD, pejabat Pemkab Kuningan dan pemilik kafe ini sempat memanas, karena keinginan Formasi untuk menutup seluruh kafe nakal tidak bisa dilaksanakan saat itu juga. Namun DPRD dan dinas terkait berhasil meyakinkan Formasi jika pemda akan menindak tegas pengusaha kafe atau tempat hiburan yang melanggar aturan, sehingga tidak perlu lagi audiensi lanjutan.

Pimpinan rapat yang juga Ketua Komisi II DPRD Kuningan, Zulkarnaen mengatakan, audiensi baru saja digelar dan langsung ada kesepakatan. Bila memang ada pengusaha nakal dan ada bukti kuat, maka akan segera ditindak.

Kekhawatiran Formasi akan adanya kafe nakal ditepis Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Pariwisata, Dodon Sugiharto. Menurut dia, antara instansinya dengan penguasa kafe/tempat hiburan sudah ada kesepakatan untuk tidak menyediakan minuman beralkohol, penari bugil, bahkan PSK yang ditandatanganin 13 pengusaha kafe.

“9 kafe sudah berizin dan 4 lainnya masih dalam proses. Jadi jangan khawatir karena kami sudah mempunyai kesepakatan dengan para pengusaha. Bila memang ada yang melanggar, kami akan segera menindaknya,” tandas Dodon Sugiharto.

Sudah tegas

Sementara itu, Kadishub Jaka Chaerul mengklaim jika pemerintah sudah bertindak tegas terhadap kafe yang nakal. “Saya rasa pemerintah sudah menindak tegas. Mari sama-sama kita melakukan yang terbaik. Kita komitmen hari ini, bila ada melanggar kita ramai-ramai tutup. Saya paham, jadi saya tegaskan untuk penutupan kapan saja bisa terjadi bila memang ada bukti perlanggaran terhadap perda,” tegas dia.

Saat audiensi berlangsung, tampak hadir General Manager Cafe Liberty, Cecep. Hanya saja, saat hendak diwawancarai ia terlihat cukup shock, karena pengelola kafe yang hadir hanya Liberty saja, padahal menurut mediator semua pengusaha kafe diundang.

“Saya sangat menyesalkan kenapa hanya kami saja yang diundang, padahal dalam kesepakatan katanya ada 13 kafe yang menandatangani kesepakatan. Kenapa harus kami saja yang sepertinya disalahkan, kan yang lain juga punya kafe,” ujar Cecep usai audiensi. (Andin/SGO)