BAMAG dan Mantan Ketua PN Kuningan Salurkan Bantuan Kemanusiaan

oleh -137 views

KUNINGAN, (SGOnline).-

Aksi solidaritas kemanusiaan terus digaungkan banyak pihak di tengah pandemik non alam, yakni virus corona. Gerakan saling menolong tanpa melihat suku, agama dan ras ini juga ditunjukan Pendeta Yayan Heryanto, tokoh agama sekaligus Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Kuningan.

Rasa solidaritas dan toleransi yang tinggi itu diaplikasikan dalam bentuk pemberian masker dan hand sanitizer kepada Padepokan Cipta Wening Subang, panti rehabilitasi bagi pecandu narkoba.

Selain itu, mantan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kuningan, Elly Istianawati, juga dua ASN yang pernah bertugas di PN, yaitu Andi Lukmana dan M. Ade Kusuma, ikut menyalurkan bantuan berupa nasi kotak, cairan disinfektan, masker, hand sanitizer dan ratusan paket sembako kepada buruh harian.

Bantuan serupa juga didistribusikan kepada Iyan Mukdiana, pengasuh Padepokan Cipta Wening Kuningan. Seluruh donasi APD maupun sembako kepada Pandepokan Cipta Wening, disalurkan melalui Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Kuningan, Poltak Gultom, Jumat (10/4/2020) di halaman gedung PN Kuningan.

Adapun pemberian nasi kotak dan sembako kepada pekerja harian itu, meliputi tukang delman, ojek pangkalan, pemulung dan para penjaga posko pembatasan. “Bantuan ini merupakan spirit Paskah, dengan semangat berbagi kepada sesama, tanpa dibatasi golongan agama suku agama dan ras,” tutur Pendeta Yayan yang akrab disapa Ki Pandita Ciremai ini.

Kesulitan makan pasien

Sementara itu, Iyan Mukdiana mengucapkan rasa terima kasih atas partisipasi semua pihak yang membantu Padepokan Cipta Wening. Ia mengaku sempat merasa khawatir saat orang yang direhab berstatus ODP, sedangkan untuk APD pun tidak ada.

“Ada pasien di panti ini yang memiliki gejala batuk pilek hingga harus diisolasi selama 14 hari. Kondisi itu membuat kami resah, sementara kami tidak mempunyai masker dan hand sanitizer. Maka dari itu, akhirnya kami memberanikan diri meminta bantuan kepada rekan jurnalis,” tutur Iyan Mukdiana.

Dijelaskan dia, aktivitas di pandepokan begitu rentan, karena pasien yang datang akhir pekan seringkali berasal dari luar kota. Sementara alat pelindung diri tidak ada. Bahkan pekerja sosial HIV-AIDS, pecandu narkoba pun tidak ada. “Kami sudah mencari APD amat susah, sampai berkeliling kemana-mana,” akunya.

Kontribusi seadanya

Iyan Mukdiana berharap, pemerintah juga memperhatikan pekerja sosial seperti dirinya karena sering berhadapan dengan orang lain. “Sebetulnya di luar sana masih banyak pekerja sosial yang bergelut dengan HIV atau pecandu narkoba, tapi belum memiliki APD, termasuk cairan disinfektan untuk membersihkan ruangan,” tuturnya.

Dirinya mengaku sering kebingungan, terutama untuk memenuhi kebutuhan makan pasien, meskipun pasokan beras masih cukup sampai Lebaran nanti. Terlebih keluarga pasien hanya memberikan perhatian seadaanya dan ia tidak bisa memaksa untuk memberi sesuai harapan panti.

“Jadi ya kami sering bingung sendiri. Bahkan di tengah wabah corona ini, kami tidak memiliki apapun yang bisa digunakan untuk melindungi relawan maupun pasien, karena memang dananya tidak ada,” ungkap Iyan Mukdiana. (Andin/SGO)