Biaya Terlalu Tinggi, Animo Petani Tanam Bawang Merah Turun

oleh -79 views

INDRAMAYU, (SGOnline).–

Musim kemarau berkepanjangan yang terjadi tahun ini membawa dampak luar biasa, bukan hanya warga yang kesulitan air bersih, tapi juga pada semangat petani yang mulai menurun. Kondisi itu dialami petani bawang merah. Antusiasme mereka menanam bawang menjadi drop karena hujan tak kunjung turun.

Wardi, petani bawang asal Desa Patrol, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu ini mengaku sudah kurang semangat menanam bawang merah. Sebab, jika dipaksakan menanam, maka modal yang harus dikeluarkan akan semakin membengkak. Besarnya modal karena harus menyewa mesin pompa air.

“Selain sewa mesin pompa, saya juga harus beli benih, pupuk, obat-obatan dan ongkos pekerja. Mending kalau pas panennya berhasil dan harganya tinggi, lha kalau ternyata terserang hama atau harga bawang merah anjok, ruginya malah berlipat-lipat,” ungkapnya kepada Surya Grage Online, Senin (4/11/2019).

Diakui Wardi, memang petani memiliki sumur buatan dan tinggal sewa mesin pompanya saja, tapi masalanya air di sumur itu sudah kering, sementara kalau air diambil dari sungai tidak bisa masuk ke areal petani. Kondisi ini sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir.

Ia menyebutkan, harga bawang merah di tingkat petani sejak sepekan terakhir hanya mencapai Rp 5.000 – Rp 6.000 per kilogram. Padahal, untuk mencapai balik modal, harga bawang idealnya minimal Rp 8.000 per kilogram. “Karena rugi terus, sekarang saya hanya menanam bawang merah sedikit, ya sekadarnya saja,” jelasnya.

Hal senada disampaikan petani lainnya, Koli. Petani kawakan ini mengemukakan, untuk menghindari kerugian dia lebih memilih memperluas lahan tanaman padi dibandingkan bawang merah. “Kalau nanam padi modalnya lebih sedikit dan harga jual gabahnya sekarang sangat mahal,” paparnya. (Ger/SGO)