Bongas Lahirkan Banyak Tokoh Penting Indramayu

oleh -454 views

INDRAMAYU, (SGOnline).-

Bongas merupakan satu dari 31 kecamatan yang ada di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pada awalnya, Bongas adalah nama untuk sebuah desa yang memiliki bentangan wilayah yang cukup luas. Seiring perkembangan waktu, Bongas akhirnya menjelma sebagai sebuah kecamatan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1981, tanggal 5 Mei 1981 tentang Pembentukan Kecamatan Bongas di Kabupaten Dati II Indramayu.

Ada delapan desa/kelurahan yang berada di bawah naungan Kecamatan Bongas, meliputi Kelurahan/Desa Bongas, Kelurahan/Desa Cipaat, Kelurahan/Desa Cipedang, Kelurahan/Desa Kertajaya, Kelurahan/Desa Kertamulya, Kelurahan/Desa Margamulya, Kelurahan/Desa Plawangan dan Kelurahan/Desa Sidamulya.

Tim Surya Grage Online (SGO) berkesempatan menelusuri Kecamatan Bongas. Kendati lokasinya cukup jauh dari pusat pemerintahan, namun secara fasilitas, terutama infrastruktur sudah cukup memadai. Hal itu setidaknya terlihat dari kondisi jalan umum yang sudah bagus, ada yang berupa beton dan ada sebagian yang aspal.

Di sisi lain, warga Kecamatan Bongas yang kebanyakan bermata pencarian sebagai petani ini masih memegang tradisi Ngunjung atau Munjung. Sebuah tradisi turun temurun yang biasanya dilakukan warga petani usai musim panen gadu atau musim ketiga. Petani tidak peduli apakah hasil panennya sesuai harapan atau tidak, bagi mereka tradisi ngunjung harus terus dilakukan.

Salah satu tradisi kearifan lokal itu dilaksanakan di TPU Buyut Musa yang terletak di Blok Penanggul. Dari tinjauan bahasa, istilah ngunjung atau munjung memiliki arti mengunjungi, menghadiri atau dalam bahasa agama biasanya disebut berziarah. Prosesi ritual munjung adalah berziarah ke makam para leluhur.

Hal ini menunjukkan jika orang-orang tua terdahulu sangat menghargai silaturahim. Melalui acara adat desa ini juga mencerminkan sikap kebersamaan/gotong royong, kesetaraan, toleransi dan saling menghargai antarwarga. Mereka membaur dalam kesamaan harapan, yakni hasil panen berikutnya lebih baik dari saat ini.

Bila ditarik garis lurus, ada hal menarik yang bisa diambil dari tradisi ngunjung ini, yaitu para leluhur yang menjadi tujuan ritual adalah tokoh-tokoh atau cikal bakal yang berjasa dalam pembentukan desa pada masanya. Oleh karenanya, adat munjung merupakan refleksi atau napak tilas masyarakat terhadap sejarah dan wujud penghormatan mereka kepada leluhurnya.

Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, Suhendi, Kecamatan Bongas mengalami perkembangan yang signifikan setelah salah seorang putra daerah terbaiknya, H Supendi menjadi Wakil Bupati Indramayu, mendampingi Hj. Anna Sophanah yang kala itu menjabat sebagai Bupati Indramayu. Bahkan saat Anna Sophanah memilih mundur dari jabatan bupati, Supendi secara otomatis naik tahta menjadi Bupati Indramayu sampai masa bakti 2021.

Hanya saja, belum usai masa kerja itu dilalui, Supendi terjerat operasi tangkap tangan (OTT) Tim Satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga akhirnya warga Kecamatan Bongas ini menghuni rutan KPK untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dalam kasus tersebut, KPK disebut-sebut menemukan uang tunai seratusan juta rupiah dari grativikasi proyek yang dimiliki pemda setempat.

Namun terlepas dari kasus yang menjeratnya, H Supendi dipandang warga Kecamatan Bongas memiliki jasa yang membawa perubahan cukup signifikan. Sebab, sejak menjabat sebagai orang penting di Pemerintah Kabupaten Indramayu, kondisi jalan-jalan di wilayah itu dibeton/diaspal.

“Sewaktu Pak Supendi belum jadi pejabat, jalanan di sini masih berupa tanah biasa. Kalau pas musim hujan, kedalaman lumpurnya bisa mencapai 30 centimeter. Warga jadi susah kalau ingin beraktivitas, tapi sekarang alhamdulillah sudah bagus semua dan warga sangat menikmati perubahan itu,” ungkap Suhendi, Senin (2/12/2019).

Supendi memang asli warga Bongas. Masa kecilnya dihabiskan di rumah kakeknya di Blok Sabrang Wetan, RT 14 RW 04 Desa Kertajaya, Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu. Sejak duduk di bangku SDN Bongas 1, SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 1 Indramayu, Supendi merupakan siswa dengan prestasi menonjol. Ia bahkan dikenal “idep”, sangat berbeda dengan teman-teman sepermainannya yang “badeg” (bandel, Red).

“Pak Supendi itu dikenal orang yang idep, tidak neko-neko. Orangnya perhatian kepada siapapun dan senang membaur. Ia juga kerap ikut kalau ada acara ngunjung di desa. Pokoknya Pak Supendi itu bukan tipe orang ‘kacang lupa pada kulitnya’. Beliau orang yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi kepada sesama,” ungkapnya.

Selain Supendi, Kecamatan Bongas juga memiliki tokoh public figure lainnya, yakni penyanyi dangdut kenamaan, Iis Dahlia. Rumah Supendi dan Iis Dahlia tidaklah terlalu jauh. Bahkan jarak antara rumah kakek Supendi dengan kediaman pelantun ‘Payung Hitam’ itu kurang dari 300 meter saja.

Iis Dahlia atau warga biasa menyapanya dengan Isda memiliki musala kecil yang terlihat sangat apik. Jarak antara rumah Isda dengan musala miliknya cukup dekat, hanya beberapa meter saja. Musala jami’ tersebut biasa digunakan warga setempat untuk menunaikan ibadah salat lima waktu.

Nama Isda dalam pertarungan politik lokal Indramayu juga cukup diperhitungkan. Berdasarkan informasi yang diperoleh SGO, sejak pilkada 2010 dan 2015, Isda kerap diminta untuk mendampingi sejumlah calon bupati untuk maju ke bursa Pilkada Indramayu. Hanya saja, ajakan tersebut selalu ditolaknya. Namun tidak menutup kemungkinan pada Pilkada Indramayu 2020 nanti, Isda pun kembali dilirik bakal calon bupati untuk menjadi pasangan calon kepala daerah, entah di posisi wakil atau bupati.

Selain dua nama tokoh tadi, Bongas juga masih memiliki nama lain yang berkiprah di sejumlah bidang, baik di kepemudaan maupun pengusaha, seperti Bambang Hermanto (pengusaha), Yosi (pengusaha) dan Yoga Rahardiansyah (KNPI Indramayu). Melihat tidak sedikit putra lokal yang berkiprah di luar desanya, warga desa ini mungkin menganut motto, ‘think locally act globally’. (Tim SGO)