Iding, Potret Warga Pinggiran yang Nyaris Terlupakan

oleh -75 views

KUNINGAN, (SGOnline).-

Sungguh malang benar nasib yang dialami Iding. Warga Desa Panyosogan, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan ini tinggal seorang diri di rumah yang sangat tidak layak huni.

Sebagian atap rumahnya ambruk. Atap yang tersisa pun harus ditopang dengan batang kayu untuk menahan sementara agar tidak roboh. Kondisi kayu atap yang hampir seluruhnya keropos berisiko roboh dan mengancam keselamatan jiwa penghuni rumah.

Nasib dinding rumah tak jauh berbeda. Hampir sebagian dinding sudah roboh. Tembok sekeliling yang masih berdiri tampak hampir seluruhnya mengelupas. Kondisinya rapuh dan terlihat seperti menunggu waktu untuk roboh.

Selain itu, tidak ada aliran listrik. Setiap malam Iding menggunakan lilin untuk penerangan. Iding yang duga menderita gangguan jiwa (Waham) sering mengumpulkan rongsok di dalam rumahnya. Banyak jenis kain dan kertas serta bahan lain yang bisa menimbulkan risiko kebakaran.

Semenjak ditinggal orang tuannya sekitar sebelas tahun lalu, Iding mengalami gangguan jiwa. Istri dan 2 orang anaknya terpaksa meninggalkan Iding sendiri tinggal di rumah yang hampir roboh itu.

Karena tidak memiliki administrasi kependudukan, Iding tidak dapat tersentuh bantuan pemerintah. Pihak pemerintah desa berupaya mencari bantuan karena khawatir rumah Iding roboh dan berisiko menyebabkan korban jiwa.

Aparat Desa Panyosogan berkoordinasi dengan tim Tour de Rutilahu untuk mencari solusi untuk masalah salah satu warganya tersebut. Tak berlangsung lama, pertemuan yang tanpa disengaja itu langsung melakukan aksi.

Wawan Kurniawan, Kepala Desa Panyosogan menuturkan langkah ini terpaksa dilakukan karena darurat. Kondisi rumah yang benar-benar mengkhawatirkan dan harus segera dilakukan perbaikan guna menghindari hal yang tidak diinginkan.

“Saya menjabat sebagai Kepala Desa Panyosogan baru 2 tahun. Masalah Pak Iding sudah sejak belasan tahun lalu dan belum ada solusi. Alhamdulillah kami bertemu dengan komunitas ini. Kalau administrasi lengkap dan tidak ada kendala di birokrasi saya juga tidak akan berani mencari bantuan di luar pemerintahan,” ungkap Wawan.

Sementara itu, Toto Suripto, Dewan Penasehat Komunitas Maharddikeka sebagai penyelenggara Tour de Rutilahu menuturkan, masalah kemiskinan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, untuk itulah digagas event TdR sebagai upaya membantu warga miskin yang tinggal di rumah tidak layak huni secara swadaya masyarakat.

“Pemerintah memiliki keterbatasan, untuk itu kita berupaya turut membantu semampunya masalah-masalah yang tidak mampu ditangani oleh pemerintah secara gotong-royong,” ungkap Toto.

Toto menambahkan, setelah sebelumnya berkordinasi dengan pihak aparat desa, pengurus RT/RW, tokoh masyarakat serta Babinsa, saat ini tim TdR sedang dalam upaya penggalangan dana. Sudah beberapa bantuan berbentuk bahan bangunan dan uang diterima tim TdR dan akan segera digarap dalam waktu dekat.

Sebagai bentuk transparansi, kata Toto, setiap donasi yang masuk akan ditampilkan di website resmi TdR yang dapat diakses melalui alamat wwww.tourderutilahu.com. selain untuk masalah donasi, pada website tersebut donatur juga dapat mengikuti progres event tersebut.

“Karena ini seratus persen swadaya masyarakat tanpa bantuan dari pemerintah maka kami menggalang dana sebagai bentuk gotong-royong. Semua donasi yang masuk dan digunakan akan kami tampilkan di website resmi TdR,” pungkasnya.(Andin/SGO)