Ingin Tahu Cerita Dibalik Tanah Borneo, Baca Kisahnya!

oleh -197 views

 SUKU Dayak merupakan sebuah suku di Indonesia yang mendiami wilayah pedalaman Kalimantan. Kehidupan yang primitif dan jauhnya dari akses informasi global menjadi ciri khas mereka. Namun berawal dari situ, ada sesuatu yang menarik untuk diketahui. Salah satu hal yang sangat menarik untuk dipelajari adalah kebudayaan mereka.

Dayak secara kaidah bahasa sebenarnya bukan nama untuk sebuah suku. Sebutan “orang Dayak” dalam bahasa Kalimantan pada umumnya berarti “orang pedalaman”, yang mana mereka jauh dari kehidupan kota.

Adat istiadat yang dimiliki Suku Dayak sangat kentara yakni, terlihat dari bagaimana cara mereka berpakaian, bagaimana cara mereka menjalani kehidupannya, serta upacara atau ritual yang mereka lakukan. Selain itu, mereka juga memiliki bahasa khas dan tarian-tarian Dayak.

Salah satu suku Dayak yang saya temui adalah Suku Dayak Ngaju (Biaju). Mereka adalah suku asli di Kalimantan Tengah. Suku Ngaju merupakan sub etnis Dayak terbesar di Kalimantan Tengah yang persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Seruyan.

Suku Ngaju secara administratif merupakan suku baru yang muncul dalam sensus tahun 2000 dan merupakan 18,02% dari penduduk Kalimantan Tengah, sebelumnya Suku Ngaju tergabung ke dalam suku Dayak dalam sensus 1930. Melalui peradaban dan kebudayaan Suku Ngaju hingga saat ini telah membentuk karakter kalimantan tengah sebagai sebuah provinsi dayak yang menjunjung tinggi kelestarian budaya, adat, kelestarian alam tanpa mengesampingkan moderenisasi.

Suku Ngaju juga terkenal akan seni musik dan tari – tarian teatrikal yang telah dikenal bahkan sering membawa nama baik Indonesia di berbagai kompetisi tari dan seni internasional. Di Kalimantan tengah Suku Ngaju sebagian besar bekerja sebagai petani, pekebun, penambang emas, dan bahkan ASN. Suku Ngaju kebanyakan mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan bahkan ada pula yang mendiami daerah Kalimantan Selatan.

Kaharingan adalah kepercayaan tradisional suku Dayak di Kalimantan Tengah, ketika agama lain belum memasuki Kalimantan.  Istilah Kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan (air kehidupan, Red), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan.

Orang Dayak Ngaju terkenal dengan kemampuan spiritualnya yang luar biasa. Salah satu kemampuan spiritual itu adalah apa yang mereka sebut Manajah Antang (burung elang), yaitu memanggil burung elang agar dapat memberi petunjuk untuk berperang atau ingin mengetahui keadaan seseorang. Mereka meyakini burung yang datang adalah suruhan leluhur mereka, dan mereka meyakini petunjuk apapun yang diberikan oleh burung elang adalah benar.

Upacara tiwah, yaitu proses mengantarkan arwah (liau) sanak kerabat atau leluhur yang sudah meninggal ke surga atau Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, yaitu sebuah tempat yang kekal atau abadi. Orang Dayak Ngaju meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan. Mereka juga meyakini bahwa sebelum dilaksanakan upacara tiwah, roh leluhur dianggap belum masuk surga.

Tradisi bertato atau tutang atau juga di sebut cacah, orang Dayak terkenal dengan seni tatonya. Baik kaum laki-laki maupun perempuan, menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, seperti pergelangan tangan, punggung, perut atau leher. Bahkan terdapat orang yang menato seluruh tubuhnya (biasanya seorang pemimpin). Tato selain sebagai simbol status juga merupakan identitas. Mentato didasari oleh kayakinan bahwa kelak setelah meninggal dan sampai ke surga, tato itu akan bersinar kemilau dan berubah menjadi emas, sehingga dapat dikenali oleh leluhur mereka nanti di surga.

Sejak dahulu hingga sekarang orang Dayak terkenal dengan hukum adat mereka, khususnya berkaitan dengan bagaimana cara mereka hidup berdampingan dengan alam (hutan). Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan oleh Ranying Hatalla dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati. Orang Dayak Ngaju meyakini jika tidak melaksanakan hukum adat, maka leluhur mereka akan marah dengan mengirimkan berbagai bencana alam, seperti banjir dan kesulitan mencari makan.

Burung enggang gading adalah burung yang sangat disakralkan dalam kepercayaan orang Dayak Ngaju. Burung ini dianggap sebagai burung indah dan dari gerak geriknya tercipta sebuah tarian, yang diyakini sebagai tarian leluhur mereka pada saat awal penciptaan. Maka dari itu hingga sekarang tarian burung enggang masih ditampilkan dalam upacara adat Dayak Ngaju, sebagai penghormatan terhadap leluhur mereka.

Pengetahuan dan keyakinan mereka terhadap pohon batang garing (pohon kehidupan) sebagai petunjuk memahami kehidupan. Pohon batang garing adalah pohon simbolis yang diciptakan berbarengan dengan diciptakannya leluhur Dayak Ngaju. Pohon ini dianggap menjadi pohon petunjuk untuk mengatur kehidupan yang harus diajarkan pada orang Dayak Ngaju kelak.

Sumber : Crismes D Jaga dan berbagai sumber