Media Partner

Ini Filosofi Lontong Cap Go Me

oleh -242 views

CAP Go Me adalah rangkaian acara yang ke-15 dalam perayaan Imlek dan Cap Go Me merupakan hari ke-15 dalam rangkaian penutup perayaan Imlek. Sebab, di Tiongkok biasanya Cap Go Me adalah hari terakhir bagi para perantau di kampung halamannya, karena esok harinya harus kembali ke daerah perantauannya.

Di Tiongkok, Cap Go Me adalah hari terakhir para petani untuk kumpul bersama famili dari perantauan. Esok harinya, mereka kembali memulai cocok tanam. Biasanya diadakan acara lampion di malam Cap Go Me.

Rumah rumah dihiasi lampu lampion menikmati dodol keranjang dan makan ikan gurame sebagai harapan lambang kegemilangan. Makan di halaman rumah diterangi sinar rembulan.

Di sini, sebelum pandemi Covid-19 warga Tionghoa biasanya ada upacara pengarakan patung Toa Pe Kong keliling kota, mengharapkan berkah rezeki, keselamatan dan kedamaian. Tetapi karena adanya pandemi, maka acara pengarakan Toa Pe Kong dan acara Cap Go Me ditiadakan.

Sejak zaman Majapahit di Pesisir Utara Jawa, seperti Semarang, Pekalongan, Lasem, Surabaya, Tuban, Cirebon ada acara makan lontong cap go me. Dipercaya, lontong cap go meh adalah adaptasi Tionghoa Indonesia terhadap masakan lokal Indonesia.

Para pendatang Tionghoa pertama kali bermukim di kota-kota pelabuhan di Pesisir Utara Jawa, misalnya Semarang, Pekalongan, Lasem, dan Surabaya. Hal ini berlangsung sejak zaman Majapahit.

READ  Patroli KRYD Ops Yustisi Polsek Seltim Tekan Aksi Premanisme

Lontong cap go me adalah bentuk kuliner adaptasi warga Tionghoa di Pesisir Jawa. Cap Go Meh diambil dari dialek Hokkian berarti ‘malam ke-15’ alias malam bulan purnama menurut penanggalan Imlek.

Kuliner lontong cap go me dipadukan dengan sambal goreng hati juga aneka masakan lain, seperti sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal dan kerupuk. Pada jelang maupun saat Cap Go Meh itu, kuliner tersebut banyak beredar di meja-meja. Melambangkan keakraban dan kehangatan persaudaraan yang bersatu. (*)

Oleh Jeremy Huang