Ini Lho Makna di Balik Ritual Bubur Sura di Keraton Kanoman

oleh -104 views

BULAN Sura atau Muharram merupakan salah satu bulan yang mengandung banyak kemuliaan, kcutamaan dan mistisme dalam tradisi Islam di Indonesia, khususnya di Keraton Kanoman Cirebon.

Sebagai bulan pertama dalam mengawali tahun baru, baik tahun baru Islam atau tahun baru Saka Aboge Keraton, bulan Suro menjadi waktu khusus dilakukanya acara-acara ritual yang erat kaitanya dengan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam dan kosmologi dalam hitungan weton dan primbon. Tepatnya pada tanggal 10 Sum, Keraton Kanoman senantiasa melakukan acara ritual selamatan bubur Sum di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon.

Acara ritual selamatan bubur Sum ini sudah dilakukan sejak masa Sunan Gunung Jati (Wa1i Sanga) dan sudah teruji oleh lintasan zaman dan peradaban. Untuk itulah, Keraton Kanoman sebagai pewaris tahta dan tradisi ritual suci peringatan hari besar Islam yang dilakukan Sunan Gunung Jati, tetap konsisten dan konsekwen melakukan apa yang telah dilakukan oleh leluhur (Sunan Gunung Jati, Red).

Acara ritual bubur Sura yang dilakukan setiap tanggal 10 Sum ini tidak lepas dari peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam antara lain, taubatnya Nabi Adam AS kepada Allah SWT, berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS, selamatnya Nabi Ibrahim AS dari api hukuman Raja Namrudz, Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara, Nabi Ayyub disembuhkan dari penyakit, Nabi Musa dan umatnya diselamatkan dari kejaran Fir’aun terjadi pada bulan Asyura, sampai pada terbunuhnya Sayyidina Husein bin Ali (cucunda Nabi Muhammad SAW) terjadi tepat pada tanggal 10 Sum.

Peristiwa bersejarah ini kemudian diperingati dalam sebuah tradisi yang disebut bubur Sura oleh para walisanga khususnya Sunan Gunung Jati, kemudian diteruskan oleh (keluarga besar Kesultanan Kanoman) sebagai pewaris tradisi dan anak cucunya.

Selain itu, peringatan Asyura juga mempunyai keutamaan untuk belajar mengalunkan shodakoh seperti tanaman hasil bumi, seperti kacang-kacangan, umbi-umbian, kelapa, buah-buahan menjadi bahan pokok pembuatan bubur suro. Semua bahan tersebut adalah swadaya dari masyarakat yang mereka punya untuk bahan-bahan pembuatan bubur sum.

Bubur suro dan lauk pauknya disajikan dalam sebuah tabir, yaitu wadah yang terbuat dari daun pisang klutuk berbentuk perahu sebagai pengingat bahtera Nabi Nuh. Selametan bubur Sura dipimpin sultan atau patih sebagai wakil sultan, dengan diiringi para family, Penghulu, Mager Sari, Abdi Dalem dan masyarakat umum.

Acara ini diawali dengan prosesi masak-masak oleh rombongan abdi dalem Panca Pitu, kemudian prosesi penyajian bubur suro di Bangsaljinem Keraton Kanoman pukul 08.00 WIB sampai menjelang Dzuhur, lalu kemudian persiapan acara ritual dengan berkumpulnya para famili keraton sehati menunggu kedatangan Sultan Raja Muhammad Emirudin, Sultan Kanoman XII atau Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman, kemudian pelaksanaan acara Ritual Selametan Bubur Sura di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon. (Rilis/SGO)