Ini Pengakuan Wawan, Pemulasara Jenazah PDP Corona di Kuningan

oleh -74 views
Wawan

KUNINGAN, (SGOnline).-

Wawan, salah seorang petugas pemulasara di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)’45 Kuningan mengaku panas dan kehabisan tenaga. Terlebih ketika harus mengenakan alat pelindung diri (APD) saat melakukan prosesi kifayah atau pemulasara jenazah pasien dalam pengawasan (PDP). “Selama dua jam berpakaian APD dan saya sendirian di kamar isolasi,” ungkap Wawan kepada awak media, Sabtu (4/4/2020).

Meski tidak positif, kata Wawan lagi, namun harus tetap waspada dan mengikuti prosedur pencegahan penyebaran pandemik covid-19. Diakuinya, pemulasara jenazah PDP memang sangat jauh berbeda dengan kasus kematian lainnya. Perlakuan jenazah PDP dianggap lebih khusus, terutama tingkat kewaspadaannya.

Pemulasara terakhir dilakukan jelang dini hari kemarin atau Jumat (3/4/2020). Mayit PDP tidak dimandikan seperti jenazah pada umumnya, tapi diganti dengan tayamum.
Usai ditayamum, jasad PDP langsung dikafani dan dibungkus plastik. “Tujuannya, untuk menjaga cairan atau hawa keluar dari jasad tadi, saya bungkus pakai plastik hingga tiga lapis dan saya yakin aman,” ungkap Wawan.

Lebih jauh Wawan menjelaskan, untuk penyerahan jasad korban PDP ke rumah duka, jenazah dibawa menggunakan ambulance rumah sakit dan dibungkus kantong mayat. Baru setelah itu diserahkan ke keluarga atau ahli warisnya.

APD untuk keluarga korban

Disinggung waktu pemakaian APD, Wawan menjelaskan, untuk melakukan kifayah di ruang isolasi dibutuhkan waktu dua jam. Belum lagi, saat mengantar jenazah ke rumah duka. Soalnya, APD dibuat sekali pakai, karena menyangkut keselamatan diri dan orang lain.

“Tadi pas tiba di rumah duka, saya berikan tiga APD untuk keluarga sebelum memakamkan jenazah. Prosesi pemakaman juga singkat dan hanya dihadiri sedikit orang dari keluarga korban PDP. Yang penting kan memenuhi rukun atau etika penguburan jenazah. Saya senang karena keluarga ahli waris berkenan memakai APD,” jelasnya.

Wawan menyadari, menangani jenazah PDP memiliki risiko tinggi. Bila tidak hati-hati, maka ia bisa menjadi korban berikutnya. Kendati bekerja di bawah bayang-bayang virus corona, ia mengaku ikhlas karena menyangkut jenazah manusia.

“Saya ikhlas dan memang dari awal sudah diniatkan untuk ibadah. Saya berharap pandemik virus corona segera berakhir agar aktivitas masyarakat kembali normal. Saya juga ingin mengimbau masyarakat untuk menaati anjuran pemerintah, seperti social distancing, hindari kerumunan dan menjaga kebersihan,” ujarnya. (Andin/SGO)

Hayyyy  hallo..... Mas, Mba... Sis  Bro... dah pada daftar menjadi mahasiswa baru UGJ belum.....ituloh Universitas Swadaya Gunung Jati.... Dulu kalian mengenalnya dengan Unswagati

Diatas ada panduan cara mendaftar online via fasilitas BJB ya....? dan juga panduan untuk melakukan heregistrasi/registrasi bagi yang sudah dinyatakan Lulus....

Semoga kalian bisa lulus dengan jurusan/program studi yang dicita-citakan

Kuliah....kuyyy ke UGJ