Inilah Fakta Sejarah Dibalik Medal dan Nyiram Gong Sekaten Keraton Kanoman

oleh -129 views

KELUARNYA Gong Sekaten dari Bangsal Ukiran (Gedong Pejimatan) merupakan tradisi yang berlangsung satu tahun sekali, tepatnya pada 07 Muwal-Pat-Ma (Mulud) Kalender Aboge Keraton. Proses keluarnya Gong Sekaten ini menjadi penanda akan dibunyikannya Gong Pusaka tersebut.

Momen keluarnya Gong Sekaten menjadi salah satu kesempatan bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya untuk menyaksikan secara langsung bagaimana wujud rupa gamelan pusaka yang hanya muncul sekali dalam setahun itu.

Gong Sekaten merupakan seperangkat gamelan pusaka milik Keraton Kanoman Cirebon yang awalnya dari Keraton Demak. Gamelan Sekaten itu dihadiahkan kepada Ratu Wulung Ayu (putri Sunan Gunung Jati dengan istrinya Nyimas Tepasari dari Majapahit) yang pada saat itu baru saja ditinggal wafat suaminya, yakni Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, Raja Demak Bintoro kedua setelah Raden Fattah.

Pada saat Ratu Wulung Ayu hendak pulang ke Cirebon, putri Sunan Gunung Jati tersebut diberikan hadiah oleh Sultan Trenggono, Raja Demak Bintoro ke III. Oleh Ratu Wulung Ayu Gamelan Sekaten itu dibunyikan setiap bulan mulud dalam peringatan Panjang Jimat.

Pada saat keraton terpecah menjadi dua sultan, gamelan pusaka tersebut jatuh waris kepada Sultan Kanoman kang Jumeneng ing Keraton Kanoman dan sampai sekarang, Gamelan Sekaten masih tetap menjadi tradisi yang dikeluarkan dan dibunyikan pada bulan Mulud untuk menghormati kelahiran Gusti Rosul dan media Islamisasi di Cirebon.

Gamelan pusaka tersebut menjadi saksi bisu kebesaran tradisi Islam di Cirebon, tepatnya di Keraton Kanoman Cirebon. Gong Sekaten hanya boleh dikeluarkan dan diambil oleh abdi dalem Keraton Kanoman dengan disaksikan oleh Sultan Raja Muhammad Emirudin (Sultan Kanoman XII) atau Patih beserta para Pinangeran Keraton Kanoman.

Prosesi keluarnya Gamelan Sekaten didahului dengan berkumpulnya para pinangeran di Bangsal Jinem, lalu setelah dirasa cukup, Pangeran Patih Raja Muhammad Qadiran, Patih Kesultanan Kanoman menghaturkan sembah izin untuk memulai prosesi kepada Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin, Sultan Kanoman XII.

Setelah menghaturkan sembah izin, Pangeran Patih beserta para pinangeran beserta abdi dalem Panca Pitu dan Nayaga Gamelan bersiap menuju Bangsal Ukiran / Bangsal Pejimatan guna melakukan ritual dan doa di dalam Bangsal Ukiran. Setelah para pinangeran dan abdi dalem berkumpul di dalam Bangsal Ukiran, Pangeran Komisi kemudian menghaturkan sembah izin kepada Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran sebagai perwakilan Sultan.

Setelah diizinkan, baru kemudian acara ritual dan doa dimulai dengan dipimpin oleh penghulu atau kaum. Setelah prosesi ritual dan doa selesai dipanjatkan, para Pinangeran beranjak berdiri di depan Bangsal Ukiran dengan berbaris rapih, untuk melihat dan menyambut seperangkat Gamelan Sekaten dikeluarkan oleh rombongn abdi dalem yang dibawa dengan sangat hati-hati, untuk dibasuh dan disucikan di Langgar Keraton Kanoman.

Tradisi Nyiram Gong Sekaten atau Gamelan Sekaten adalah kelanjutan dari setelah dikeluarkanya Gamelan Sekaten dari Gedong Pejimatan lalu kemudian diiring menuju Langgar Alit untuk dibersihkan dan disucikan. Tradisi Nyiram Gong Sekaten ini merupakan tradisi yang dilakukan satu kali dalam satu tahun yang khusus dilaksanakan pada tanggal 07 Muwal-Pat-Ma (Mulud) yakni sebelum dibunyikanya Gamelan Sekaten.

Prosesi pencucian Gamelan Sekaten ini dilakukan oleh rombongan abdi dalem khususnya para Nayaga Gamelan Sekaten, Lurah Gamelan (pimpinan), para kaum yang dipimpin oleh Sultan Raja Muhammad Emirudin (Sultan Kanoman XII) yang dalam hal ini diwakilkan oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran (Patih Kesultanan Kanoman) dan diikuti oleh para pinangeran (Bangsawan Keraton Kanoman Cirebon) juga masyarakat sekitar.

Dalam prosesi pencucian Gamelan Sekaten tersebut, banyak dari para warga yang sengaja mengambil air untuk mencuci Gamelan Pusaka tersebut bahkan air bekas cucianya yang diyakini mempunyai nilai keberkahan tersendiri. Hal ini karena Gamelan yang disucikan dalam momentum ini mempunyai nilai sejarah tersendiri yang berhubungan dengan Sunan Gunung Jati dalam upaya Islamisasi di tanah Sunda.

Gamelan Pusaka yang hanya muncul satu tahun sekali ini menjadi penanda akan dilaksanakanya prosesi malam Pelal Panjang Jimat dan kehadiran Gamelan pusaka ini banyak ditunggu oleh masyarakat dari Cirebon dan sekitarnya. Adapun prosesi pencucian ini bahanya menggunakan bubuk batu bata merah yang sudah dihaluskan melalui proses pembakaran dengan memakai alas kayu dibawahnya, lalu kemudian dibasuh menggunakan tepes (serabut kulit kelapa), kemudian disiram menggunakan air sumur Langgar Alit yang dicampur dengan kembang tujuh rupa.

“Prosesi penyiraman itu dilakukan oleh Sultan Raja Muhammad Emirudin yang dalam hal ini diwakilkan oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran (Patih Kesultanan Kanoman) dengan didahului lantunan doa terlebih dahulu. Baru kemudian prosesi penyiraman Gong Sekaten dilanjutkan oleh Ki Lurah Gamelan (pimpinan Nayaga Gamelan), setelah selesai baru kemudian Gamelan Sekaten diletakan di Bangsal Sekaten,” ujar juru bicara Kesultanan Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina, Kamis (7/11/2019)..(Bobby/SGO)