Inilah Jeritan Rakyat Kecil yang Terdampak Corona, Hidup Makin Sulit!

oleh -83 views

KUNINGAN, (SGOnline).-

Puluhan perempuan tersentuh melihat dampak pandemik corona ini, karena tidak sedikit warga yang tak bisa berjualan dan bekerja, terutama para perempuan perkasa yang pendapatan sehari-harinya hanya cukup untuk makan saja.

Menyaksikan penderitaan itu, puluhan srikandi yang tergabung dalam Gerakan Peduli Perempuan (GPP), bergerak menyisir perempuan tangguh yang terdampak covid-19 untuk memberikan bantuan sembako dan masker, Selasa (7/4/2020).

Sekitar pukul 08.30 WIB, perempuan-perempuan aktivis ini mengawali pemberian bantuan kepada Cicih (60 tahun), pedagang lotek di seputar Perumahan Cijoho, kemudian dilanjut ke pedagang sorabi di Desa Sindangsari, Kecamatan Sindangagung, kemudian ke buruh bungkus ketupat di Kelurahan Winduhaji, Kecamatan Kuningan dan 27 lokasi lainnya.

“Tos sababaraha dinten teu tiasa icalan, da teu kengingeun ku kelurahana. Maksa bade icalan oge da teu aya nu meserna, sepi (sudah beberapa hari ini tidak bisa jualan, karena dilarang oleh Kelurahan. Mau maksa jualan juga tidak ada yang membelinya, sepi, Red),” ujar Cicih.

Paket sembako

Untuk itu, Gerakan Peduli Perempuan memberikan paket sembako yang berisi beras 7 kg, minyak 1 kg, terigu 1 kg dan telur ayam 1 kg. “Mudah-mudahan dengan bantuan ini bisa meringankan beban mereka karena dipastikan pekerjaan mereka, ibu-ibu yang setiap hari mencari rupiah berhenti akibat covid-19,” ujar Koordinator GPP, Ade Joko didampingi Any Saptarini, Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Kuningan.

Sebanyak 30 perempuan tangguh yang dikunjungi tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Luragung, Kadugede, Cidahu, Kuningan. Mereka semua perempuan yang sebagian besar menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari ekonomi. Akibat pandemik corona, mereka terpaksa berhenti berdagang dan bekerja, kendati pekerjaan mereka dilakukannya di siang hari.

“Hatur nuhun tina bantosana. Bantosan ieu katampi pisan, da tos saminggu abdi teu ngadamelan urung kupat da sepi pisan (Terima kasih atas bantuannya. Bantuan ini sangat berarti, karena sudah seminggu saya tidak membuat bungkus kupat, sepi sekali, Red),” papar Nani (70 tahun), warga Winduhaji yang hidup tanpa suami dan harus ikut menafkahi cucunya itu.

Sangat berdampak

Nani menjelaskan, pendapatannya dalam sehari tak lebih dari Rp 15 ribu, dalam sehari hanya cukup untuk membeli beras. Namun sejak pandemik corona, ia pun turut merasakannya. Selain itu beberapa program pemerintah seperti Program Keluarga Harapan dan lainnya ia sering luput dari sorotan pemerintahan.

Sementara itu, aktivis yang tergabung di GPP ini kebanyakan perempuan yang peduli dan aktif di berbagai organisasi, seperti ada dari dosen Uniku, pengurus Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Karang Taruna, Jaga Pelita, wartawati dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Foraku dan lainnya.

GPP berharap, pihak lain tergerak untuk ikut peduli terhadap masyarakat yang terdampak covid-19. Sebab, dengan kebijakan pemerintah menerapkan bekerja di rumah dan karantina wilayah berdampak sekali terhadap perputaran ekonomi, terutama pedagang kecil yang hanya mengandalkan dari hasil jualannya, dan jika tidak berjualan benar-benar tidak mendapatkan penghasilan. (Andin/SGO)

Hayyyy  hallo..... Mas, Mba... Sis  Bro... dah pada daftar menjadi mahasiswa baru UGJ belum.....ituloh Universitas Swadaya Gunung Jati.... Dulu kalian mengenalnya dengan Unswagati

Diatas ada panduan cara mendaftar online via fasilitas BJB ya....? dan juga panduan untuk melakukan heregistrasi/registrasi bagi yang sudah dinyatakan Lulus....

Semoga kalian bisa lulus dengan jurusan/program studi yang dicita-citakan

Kuliah....kuyyy ke UGJ