Inilah Prosesi Muludan Tuk dan Cerita Kayu Pangeran Walangsungsang

oleh -147 views

CIREBON, (SGOnline).-

Acara Maulid Nabi Muhammad SAW (Muludan) di Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon atau masyarakat setempat menyebutnya Muludan Tuk memasuki puncak peringatan pada Minggu, (17/11/2019) pukul 22.00 WIB

Sebelumnya, pagi pukul 09.00 WIB dilakukan pengangkatan Buyut Kayu Perbatang, di Situs Pangeran Mancur Jaya. Buyut Kayu merupakan sebuah kayu pusaka yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Ritual pengangkatan kayu keramat Pangeran Mancur Jaya, dimulai dengan pembacaan salawat Nabi. Setelah dikumandangkan adzan oleh seorang muadzin, tujuh orang kemudian turun ke dasar balong keramat untuk mengangkat kayu tersebut.

Warga yang hadir ikut menaburkan bunga sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur. Masyarakat setempat meyakini kayu peninggalan wali tersebut, mengandung karomah dan memiliki beberapa keistimewaan termasuk airnya konon bisa mengobati semua jenis penyakit.

Pembawa acara yang sudah diberikan mandat oleh juru kunci, Raden Mohammad Suparja mengisahkan, Pangeran Mancur Jaya menemukan kayu perbatang pada pukul 09.00 tanggal 19 Rabiul Awal. Kayu tersebut adalah bekas tempat duduk Raden Walangsungsang ketika bertapa, yang kemudian ditemukan Pangeran Mancur Jaya ketika ia diperintahkan pihak keraton untuk mencari sumber air karena kala itu terjadi kekeringan panjang di wilayah Cirebon.

“Ketika pangeran menghentakkan kayu tersebut ke tanah, memancarlah air dari sela-sela tanah. Benturan kayu menimbulkan bunyi “tuk”, sehingga desa tersebut kemudian dinamakan desa tuk,” ujarnya.

Percikan air dari balong keramat yang dipakai untuk memandikan kayu tersebut, di percaya dapat memberikan aura yang tertutup dan membuang kesialan. Tak ayal ratusan orang berebut air keramat tersebut. Adapun peletakan kayu berukuran panjang sekitar dua meter tersebut ke dalam dasar kolam juga melalui prosesi.

Setelah arak-arakan selesai, acara diawali dengan marhabanan sebagai bentuk puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian pada pukul 22.00 WIB dilakukan prosesi peletakan kayu keramat ke dalam balong. Sebelum dimasukkan ke dalam balong seorang muadzin mengumandangkan adzan. Seiring kemudian kayu digotong sebelum dimasukkan ke dasar kolam kayu diterima oleh empat orang. Setelah kayu masuk ke dalam kolam, iqomah pun dikumandangkan layaknya jenazah manusia yang akan dikebumikan.

Suasana semakin sakral dengan aroma kemenyan dan wangi bunga tujuh rupa di area kolam. Dimasukkannya kayu keramat ke dalam balong dengan iringan bacaan salawat merupakan tanda berakhirnya prosesi muludan di Desa Tuk.

Juru kunci, Raden Mohammad Suparja menjelaskan, makna muludan yang ada di Desa Tuk miliki makna yang sangat besar, terutama dalam syiar Islam di wilayah Cirebon. Adapun prosesi ritual acara pengangkatan maupun penurunan Buyut Kayu Perbatang diiringi dengan adzan dan iqomah, diartikan agar selalu melaksanakan perintah Allah SWT, yaitu menunaikan salat lima waktu.

Suparja mengimbau kepada generasi muda untuk melestarikan situs cagar budaya, sehingga di masa depan balong keramat ini bisa menjadi destinasi wisata yang mampu mempercepat roda perekonomian masyarakat setempat. “Kami harap tahun depan acara ini mendapat perhatian dari Disbudparpora Kabupaten Cirebon,” ungkapnya.(Mad/SGO)