Inilah Sang Legenda dari Tanah Borneo

oleh -133 views

TJILIK Riwut, sebuah nama yang sudah tidak asing lagi bagi suku Dayak Ngaju, suku Dayak yang mendiami kota Palangkaraya Kalimantan Tengah. Sosok gubernur pertama Kalimantan Tengah, yang menjabat pada periode 1959-1967 Tjilik Riwut bukanlah gubernur biasa, Tjilik Riwut yang dengan bangga selalu menyatakan diri sebagai “orang hutan” karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan, adalah pencinta alam sejati juga sangat menjunjung tinggi budaya leluhurnya. Ketika masih belia, ia tiga kali mengelilingi pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, naik perahu dan rakit. Dia menamatkan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya. Selanjutnya dia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Perawat di Purwakarta dan Bandung.

Tjilik Riwut adalah salah satu putra Dayak dari suku Dayak Ngaju yang menjadi anggota KNIP. Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampaui batas-batas kesukuan untuk menjadi salah satu pejuang bangsa

Tjilik Riwut adalah salah seorang yang cukup berjasa bagi masuknya Pulau Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia. Sebagai seorang putra Dayak, ia mewakili 185.000 rakyat terdiri dari 142 suku Dayak, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 3 panglima, 10 patih, dan 2 tumenggung dari pedalaman Kalimantan yang bersumpah setia kepada Pemerintah RI secara adat dihadapan Presiden Soekarno di Gedung Agung Yogyakarta, 17 Desember 1946.

Tjilik Riwut sebagai pahlawan nasional

Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Tjilik Riwut sebagai pahlawan nasional, berdasarkan SK Presiden No. 107/TK/1998 tertanggal 6 November 1998. Ia  juga meninggalkan sejumlah jejak sejarah di kemiliteran. Operasi penerjunan pasukan payung di Desa Sarabi di Kalimantan Tengah yang dia pimpin pada 17 Oktober 1947, misalnya, belakangan ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI Angkatan Udara

Sebagai tentara, pengalaman perangnya meliputi sebagian besar pulau Kalimantan dan Jawa. Setelah perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintahan. Dia pernah menjadi Gubernur Kalimantan Tengah setelah sebelumnya menjadi Wedana Sampit lalu Bupati Kotawaringin,  menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, dan terakhir sebagai anggota DPR RI.

 

Kelahiran Provinsi Kalimantan Tengah

Sebagai orang pertama yang menjabat Gubernur Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut adalah salah satu tokoh perintis dan pelopor pembangunan Kota Palangkaraya, dari sebelumnya kawasan hutan belantara. Kota Palangkaraya memiliki arti “tempat yang suci dan besar”.

Sebelumnya, wilayah yang kemudian hari menjadi Propinsi Kalimantan Tengah merupakan bagian dari Kalimantan Selatan. Kelahiran provinsi Kalimantan Tengah mendapatkan payung hukum UU Darurat Nomor 10 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah.

Pencanangan tiang pertama pembangunan Kota Palangkaraya dilakukan Presiden Soekarno pada 17 Juli 1957, ditandai peresmian Tugu Ibu Kota Kalimantan Tengah di Pahandut di dekat aliran Sungai Kahayan. Lalu, Undang Undang Nomor 21 Tahun 1958, menegaskan keberadaan Kota Palangkaraya. Realisasi pewujudan kota inilah yang berlangsung pada masa Tjilik Riwut menjadi Gubernur Kalimantan Tengah.

Sejak itu, Kecamatan Kahayan Tengah yang berkedudukan di Pahandut secara bertahap mengalami perubahan dengan mendapat tambahan tugas dan fungsinya. Antara lain, mempersiapkan Kotapraja Palangkaraya. Perlahan, Ibu Kota Kalimantan Tengah yang  semula adalah Pahandut diganti menjadi Palangkaraya. Proses pembangunan kota dari semula hutan belantar tersebut rampung pada mei 1965. Peresmian kehadiran Kota Palangkaraya ditandai dengan upacara besar di Lapangan Bukin Ngalangkang, pada 17 Juni 1965. Upacara diawali dengan demonstrasi terjun payung membawa lambang kota. Penerjunan melibatkan para penerjun yang ikut terjun pada 17 Oktober 1947.

Adapun jejak Tjilik Riwut di Palangkara kemudian diabadikan   nama pangkalan udara, bandara,  nama jalan, dan nama Detasemen TNI AU di Palangkaraya.

Berikut Biografinya:

Nama Lengkap                                  : Tjilik Riwut

Tempat dan Tanggal Lahir                 : Kasongan, 02 Februari 1918

Wafat                                                 : 17 Agustus 1987

Istri                                                     : Ny. Clementine Suparti

Anak                                                  : – Emilia Enon Herjani
– A.R. Hawun Meiarti
– Theresia Nila A.T.
– Kameloh Ida Lestari
– Anakletus Tarung Tjandrautama Tjilik Riwut

 

 

 

sumber : Crismes D Jaga dan berbagai sumber