Jangan Sering Marahi Anak, Apalagi Menyiksanya

oleh -49 views

KUNINGAN, (SGOnline).-

Anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulmia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri.

Demikian hasil penelitian Unicef (1986), dan didata ulang oleh BP3AKB Provinsi Jawa Barat. Dari catatan BP3AKB, kekerasan terhadap anak, perempuan maupun trafficking di Jawa Barat terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Dilansir dari data BP3AKB Jawa Barat, setiap kabupaten di Jawa Barat kekerasan kerap mengalami kenaikan. Seperti pada kekerasan fisik, di tahun 2014 ada 677 kasus dan di tahun 2015 naik menjadi 992 kasus. Kasus traficking hanya 154 di tahun 2014 dan di tahun 2015 naik menjadi 217, begitu pula dengan kasus-kasus lainnya.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan dan Perlindungan Anak, pada 2018 angka kekerasaan anak di Jawa Barat mencapai 819 kasus. Kasus kekerasan anak yang tertinggi berada di Kabupaten Sukabumi (77 kasus), Kota Depok (72 kasus), Kabupaten Bekasi (64 kasus), Kota Bogor (61 kasus), dan Kota Bandung (60 kasus).

“Untuk membenahi dan menjauhkan dari lingkungan kekerasan, pilar utamanya adalah keluarga. Karena keluarga mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan asah asih dan asuh. Keluarga merupakan tumpuan untuk menumbuhkembangkan potensi anak. Hanya keluarga lah yang berketahanan yang akan mampu memfilter pengaruh negatif dari luar, dan keluarga lah yang menjadi landasan keluarga bahagia dan sejahtera,” papar Dewi Sartika, praktisi pendampingan anak, Senin (28/10/2019).

Selain keluarga, semua pihak harus turut mendukung dalam meminimalisir dan mewujudkan keluarga yang tanpa kekerasan tersebut. Jika diawali oleh pemerintah, maka setidaknya elemen lainnya akan turut mendukung terhadap perwujudan tersebut. Salah satu bentuk dari perwujudannya yakni dengan dibentuknya ‘Desa Ramah Anak’, ‘Sekolah Ramah Anak’, sehingga berkembang menjadi daerah atau kabupaten yang ramah anak.

Dalam perlindungan anak sendiri, menurut Dewi, langkah-langkah dan pengembangan struktur untuk mencegah dan menanggapi penyalahgunaan, penelantaran, eksploitasi dan kekerasan yang dapat mempengaruhi kehidupan anak-anak telah diatur dalam KHA dan instrumen hukum HAM yang lain, serta UU No. 23 tahun 2002 dan UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.(Andin/SGO)