Kaum Pergentengan di Majalengka Bakal Unjuk Otot

oleh -98 views

MAJALENGKA, (SGOnline).-

Idiom #workfromhome yang terus didengungkan belakangan ini, ternyata tak berlaku sama bagi setiap pekerja di muka bumi ini. Bagi kaum pergentengan, jebor (pabrik genteng, Red) adalah rumah kedua.

Pertama, kebanyakan pekerja hidup bertetangga dengan jebornya. Artinya, mereka berada dalam satu kecamatan. Dalam bahasa pemerintah di era pandemi ini, para pekerja dan pabriknya berada dalam satu kluster.

Kedua, sedari dulu kala, jebor memang sebuah tempat bekerja, yang para ayah dan ibu selalu bisa mengajak anaknya. Bayi bisa diayunkan di sudut tertentu agar orang tua bisa melihatnya sambil bekerja.

Pekerja lain yang melaluinya akan dengan ringan tangan mengayunkan kain tersebut apabila sang anak menangis. Anak SD bisa berlarian dan bermain tanah liat di jebor. Ketika musim tanam atau panen, jebor akan sepi dan tak akan ada yang dipecat karena nyawah.

Maka dari itu, pernyataan kalau jebor adalah rumah kedua bagi kaum pergentengan, tidak hanya berlaku bagi para pemiliknya, namun juga bagi siapapun pekerjanya.

“Jatiwangi Cup 2020 mestinya berlangsung di PG Super Bambang, Baturuyuk. Namun pandemi menuntut kami untuk menyesuaikan diri. Menyesuaikan pola hidup, menyesuaikan cara berkumpul dengan tetangga. Sebelumnya, kita bisa berkumpul dan berkunjung seluasnya, tapi sekarang tak mungkin bagi kita untuk berkumpul dengan cara yang sama,” kata salah seorang panitia, Ika Yuliana, Selasa (11/8/2020).

Perluas ajakan

Tetap ngotot merayakan walau dalam keterbatasan berkumpul. Ini adalah cara mereka untuk menjaga kewarasan yang ada. Sebab, tidak bisa dirayakan dengan cara yang sama, maka panitia memperluas ajakan, mengajak tetangga yang jauh, yang justru mungkin dalam keadaan ini.

“Tetangga kami yang sedang berada di Jakarta, Bandung, Jogja, Norwegia, Belanda, Korea Selatan, dan lain-lain. Demi memenuhi protokol kesehatan, keamanan, dan kenyamanan, Jatiwangi Cup 2020 akan kami selenggarakan di Jebor Hall, Jatiwangi art Factory,” jelasnya.

Seperti namanya, tempat ini juga dulunya sebuah jebor. Satu dekade belakangan ini, tempat ini lebih dikenal sebagai oase inspirasi pembentukan, perawatan, dan pembaharuan budaya setempat. Semi-terbuka dan berukuran 600 m2.

Jebor Hall akan memanggungkan 20 semi-finalis tanpa penonton publik umum. Hanya anggota keluarga mereka yang akan hadir sebagai penonton. Tentu saja mereka akan duduk dalam kluster-kluster yang berjarak dengan segala protokol kebersihan yang ketat.

Binaraga

Publik yang lebih luas, baik tetangga yang dekat maupun jauh, akan bisa menonton lomba binaraga antar pekerja jebor ini melalui kanal Youtube Jatiwangi art Factory, akun Instagram @jatiwangiartfactory, dan laman Facebook Jatiwangi art Factory.

“Tahap penjurian pun kami bagi dua. Keseluruhan peserta pertama didatangi ke pabriknya masing-masing untuk difoto. Hasil foto diunggah untuk penilaian. Dua puluh peserta yang lolos seleksi kemudian akan memeragakan tubuhnya bak peragawan,” terangnya.

Di sebuah catwalk lengkap dengan segala gemerlap lampu dan musiknya, lanjut dia, tiga orang juri akan melakukan penilaian daring, sementara dua yang lainnya akan duduk di hadapan panggung.

“Ngotot! Ya, kami masih ngotot mengadakan acara ini. Betapapun asingnya segala protokol kesehatan, mulai dari cuci tangan di teras, penguapan disinfektan sebelum masuk ruangan, sampai dengan hand sanitizer di mana-mana, demi keamanan dan kenyamanan bersama, semua hal ini akan kami tempuh untuk bisa meneriakkan: Aing masih aya! Aing masih rea!” paparnya. (Rilis/Ruddy/SGO)