Kayau, Tradisi Lama Orang Dayak Penggal Kepala

oleh -242 views


KERUSUHAN etnis di Sampit, Kalimantan Tengah, pada Februari 2001 melibatkan dua suku beda pulau. Massa berang dari Suku Dayak bentrok dengan pendatang Madura di Sampit, golongan yang dipandang menguasai sumber daya ekonomi dan hidup eksklusif.

Penyebab pokok pertikaian simpang siur. Tapi, yang pasti, kerusuhan tersebut menunjukkan Suku Dayak tergolong petarung tak kenal takut. Tandanya kentara. Di puncak kemurkaan mereka, tradisi kayau atau penggal kepala–bagian dari sejarah kelam Suku Dayak–seakan lahir kembali.

Hasilnya, ratusan korban tanpa kepala berjatuhan, tak peduli usia atau jenis kelamin. Para pelaku pemenggalan seperti kesetanan. Ribuan pendatang Madura di Kalimantan Tengah tak henti diburu nyaris sepanjang tahun. Situasi diperburuk dengan kecakapan khas Suku Dayak: konon, mereka bisa mengenali aroma tubuh orang Madura yang disebut-sebut mirip bau sapi.

Gelombang pengungsian dari Kalimantan akhirnya tak terelakkan.

“Kengerian kerusuhan di Sampit luar biasa,” kata Panglima Komando Pengawal Pusaka Adat Dayak Borneo, Abriantinus “Padahal orang Dayak sedang tidak sadar saat itu. Kejiwaan mereka sudah dikuasai sepenuhnya oleh roh para sahabat. Gerakannya sudah tidak terlihat. Tahu-tahu belasan kepala terpenggal meskipun dengan penjagaan ketat Polisi”.

Semasa perselisihan berdarah itu, Abriantinus tinggal di Dusun Sangau, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Tokoh Dayak ini menyatakan kebuasan serupa tepat terlukis dalam film arahan Mel Gibson, Apocalypto (2006).

“Persis seperti film itu, serang menyerang antar kampung dan membantai seluruh musuhnya. Ini yang diceritakan para orang tua kami sejak dulu,” ujarnya.

Di masa lalu, peperangan antarsuku, kayau, dan pembantaian menjadi bagian kehidupan suku pedalaman. Tapi, palagan bisa terjadi tanpa sebab musabab jelas. “Mereka akan membunuh setiap orang tidak dikenal saat menjelajah hutan kekuasaannya. Prinsipnya hanya satu, yang mati aku atau kamu,” katanya.

Jika pecah perang besar, mereka meminta bantuan sahabat, yakni para roh dan pelindung Suku Dayak di Kalimantan. Para penganut Hindu Kaharingan ini percaya roh-roh merasuki jiwa pemuda Dayak saat berperang.

Tetapi, para sahabat itu tak hadir begitu saja. Ada upacara pemanggilan arwah yang digelar sebelum pertempuran meletus. Meski begitu, dalam kondisi lain, masyarakat Dayak sebenarnya rutin mengadakan upacara adat demi meminta perlindungannya.

Berbagai sesajen berupa sembelihan hewan dipersembahkan kepada para sahabat ataupun roh leluhur penunggu hutan. Bahkan hingga kini, ritual pemeluk Kaharingan ini berlangsung setiap tahun di Dusun Sangau.

“Biasanya setiap bulan Agustus digelar upacara ritual adat di Sangau yang dihadiri pimpinan suku di Kalimantan,” ujar Abriantinus. Dia bilang, tradisi sukunya persis adat kebiasaan turun-temurun warga Bali.

“Sesajen di tempat angker seperti pohon besar, gua hingga tempat-tempat sering terjadi kecelakaan,” ujarnya.

Lantaran itu, para prajurit Suku Dayak zaman dulu punya kesaktian luar biasa. Mereka berperang tanpa tampak wujud fisiknya, hanya menyisakan kelebatan mandau.

“Pedang mandau yang asli terbuat dari batu besi yang ditempa menjadi sebilah pedang tajam. Pedang ini berwarna gelap dan dihiasi gagang dari tulang hewan,” kata Abriantus.

Ketajaman dan kekuatan mandau batu besi tidak perlu diragukan. Senjata itu penting dalam ritual kayau.

Catatan lain, mandau yang sudah dipakai menumpahkan darah manusia berbeda dari mandau biasa yang ditemukan di pasar. Pasalnya, warga Dayak punya kebiasaan melubangi gagang pedangnya setiap kali usai memenggal kepala musuh.

“Satu lubang di pedang mandau artinya sama dengan satu nyawa. Kalau ada banyak lubang artinya pedang itu sudah menghabisi banyak musuh,” ujar Abriantinus.

“Kami juga tidak luput dari bahaya diserang kelompok lain yang mengincar kekuasaan atas wilayah Barito. Perjanjian tuga ini yang mampu melindungi warga dari ancaman luar,” ujar Atung.

Seturut keterangannya, perjanjian disepakati pada 1809.

Di antara sahabat pelindung dimaksud adalah arwah leluhur yang dikenal sebagai sembilan panglima Suku Dayak. Para panglima berjuluk pangintuhu bernama Nunan bin Matagum, Sampu, Ginap, Nyunre, Natan, Wadjun, Ginro, Hendrik ,dan Bane.

Para panglima itu konon “turun” saat Suku Dayak tertimpa kemalangan.

“Mereka membantu kami di saat warga Dayak dalam posisi terdesak saja. Turun kembali ke bumi lewat upacara tetua adat,” kata Atung, yang mengaku sebagai keturunan para pangintuhu.

Perlindungan hukum masyarakat adat

Menurut Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), terdapat 700 komunitas adat tradisional di Kalimantan Tengah. Mereka ini merupakan kelompok masyarakat Suku Dayak tradisional yang berdiam di daerah hutan adat Kalimantan Tengah.

“Hanya 340 di antara komunitas adat yang resmi masuk dalam data AMAN. Sisanya menunggu pengesahan dari kongres AMAN nanti,” kata Ketua AMAN Kalimantan Tengah, Simpun Sampurna.

Simpun mengatakan masyarakat Suku Dayak terbagi dalam sembilan sub-klan utama: Maanyan, Ngaju, Ot Danum, Siakng Murung, Meratus, Bakumpai, Dusun Bayan, Dusun Taboyan, dan Mendawai. Dari sembilan itu, lahir ratusan sub-suku.

“Dusun Pamangka ini termasuk di antara komunitas warga adat yang ada di Kalteng ini,” kata Simpun.

Kementerian Dalam Negeri sudah menerbitkan aturan berisi perlindungan hukum atas keberadaan masyarakat adat di Indonesia, yang memiliki nilai kearifan lokal.

“Peraturan ini sudah ada sejak zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, implementasi di lapangan belum jalan hingga kini. Hanya lembaga swadaya masyarakat yang aktif mengupayakan hak hak warga adat ini,” ujar Simpun.

Peraturan itu menghendaki pemerintah daerah untuk melakukan verifikasi dan validasi data mengenai keberadaan masyarakat adat. Namun, pada kenyataannya, kata Simpun, AMAN semata yang melakukan pendataan keberadaan warga adat di seluruh Indonesia.

Simpun mencomot Kalimantan Tengah sebagai misal. Dia berani merekomendasikan 12 komunitas adat yang layak memperoleh penetapan hukum dari pemerintah daerah setempat.

“Sebanyak 12 komunitas adat sudah kami petakan keberadaannya sebagai area tradisional Suku Dayak, dan sebanyak sembilan lainnya dalam proses pengerjaan,” ujarnya.

Penetapan komunitas adat akan memberikan kepastian perlindungan hukum dan eksistensi masyarakatnya. Dalam beberapa kasus, kata Simpun, komunitas warga adat acap kali menjadi korban konflik agraria hingga kriminalisasi melawan perusahaan perkebunan maupun pertambangan. (SGO)

Sumber : https://lokadata.id/ dan berbagai sumber lain