Kerap Minta Tumbal, Patung ‘Gaib’ Diduga Dipendam di Jalur Bandorasa Kuningan

oleh
Jalan Bandorasa Kuningan/jalan jalan

KUNINGAN, (SGOnline).-

Kecelakaan yang terjadi di jalan raya, tepatnya di Blok Cantilan, Desa Bandorasa Wetan, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang terjadi, Selasa (14/7/2020) saat Maghrib, ditanggapi serius pengguna jalan.

Salah satunya, Elang Gesang. Warga asli Cirebon yang kerap melintasi jalan tersebut, mengungkapkan, banyak faktor pemicu terjadinya kecelakaan, di antaranya penerangan dan kondisi jalan yang menikung.

“Jalan di sana kecil. Selain itu seringkali pengendara yang melintas di jalur tikungan, kurang hati-hati. Saya sendiri, kalau lewat dari Kuningan menuju Cirebon, kendaraan dari arah lawan tuh suka tidak kelihatan,” papar Elang Gesang Hariman, yang juga Pemangku Adat Keraton Gebang.

Di samping itu, pria yang akrab disapa Ang Gesang ini, mengaku seringkali kesulitan saat menjelang malam. Soalnya, kondisi penerangan di jalan tersebut kurang maksimal.

“Jalannya juga gelap dan lampu kuning seringkali mengalihkan pandangan. Baiknya mah ditambahkan kaca pembesar pas di tikungan itu. Jadi kalau ada kendaraan dari arah berlawanan bisa kelihatan,” harapnya.

Elang Gesang pun mengungkapkan, faktor eksternal amat terasa mendukung sering terjadi kecelakaan. “Biasanya faktor X ikut berpengaruh. Misalnya, ada barang tertentu yang dipendam,” tambah guru spiritual ini.

Benda/patung dipendam

Hanya saja, hal tersebut terlebih dahulu dilihat dari korban meninggal. Apabila mayoritas yang meninggal berjenis kelamin pria, maka benda yamg dipendam adalah perempuan, begitu juga sebaliknya.

“Hal itu sama persis dengan kejadian yang pernah saya alami di salah satu jembatan Cirebon. Ada patung pengantin wanita yang dipendam sekitar 8 meter. Rata-rata korbannya laki-laki untuk dijadikan temannya. Bahkan bisa jadi yang meninggal banyak, misalnya satu mobil,” tutur dia.

Barang atau patung yang dipendam, dijelaskan Ang Gesang, biasanya berbentuk simbol, ungkapan sakit hati atas penolakan cinta atau patah hati zaman dahulu. “Dan yang terjadi di Kuningan, daerah yang terjadi tabrakan, identik dengan sumpah pantangan pernikahan antara Cirebon dan Kuningan,” ungkapnya.

Maka dari itu, ia berpesan bagi pengguna jalan, sebaiknya saat melintasi tikungan membunyikan klakson dan mengurangi kecepatan. Tindakan tersebut sebagai tanda ada kendaraan yang akan melintas. Usahakan tidak nyalip di tikungan karena risikonya fatal.

Ang Gesang pun berpesan untuk hindari ke luar saat menjelang malam. Soalnya, kerap membuyarkan pandangan saat pergantian cahaya dari siang ke malam. “Ya lebih baik salat Maghrib dulu, baru jalan lagi. Biasanya wayah Maghrib juga, makhluk halus berkeliaran,” ucapnya. (Ruddy/SGO)