Kisah Perjalanan Bhikku Bernama Fa Xian (Fai Xien) pada 337-422

oleh
Ilustrasi/dok pribadi

CIREBON, (SGOnline).-

Ada pepatah, 当我们忘记历史时,我们将被遗忘的历史,过去的历史为未来的生活做准备 Dāng wǒmen wàngjì lìshǐ shí, wǒmen jiāng bèi yíwàng de lìshǐ, guòqù de lìshǐ wèi wèilái de shēnghuó zuò zhǔnbèi. Artinya, ketika kita melupakan sejarah, maka kita akan dilupakan sejarah. Belajar sejarah masa lalu untuk mempersiapkan kehidupan masa depan.

Peradaban budaya Tiongkok lahir dan berkembang berasal dari lembah-lembah dan dua sungai besar, yaitu Sungai Kuning dan Sungai Yangtze. Warga Tiongkok menganggap dataran Tiongkok Utara, juga dikenal sebagai Zhongyuan, yang dibatasi kedua sungai besar itu adalah jantung Tiongkok.

Hal itu sebagaimana halnya leluhur mereka yang menganggap kawasan ini sebagai jantung peradaban Tiongkok. Poin tersebut dapat kita baca dari buku Cheng Ho karangan Tan Ta Sen.

Tiga jalur perdagangan Tiongkok, membawa kalangan pedagang Tiongkok mengembara ke berbagai penjuru dunia yaitu, jalur perdagangan teh Cha Ma, perdagangan jalur Sutra dan jalur perdagangan Keramik. Melalui perdagangan inilah terjadi kontak budaya dan asimilasi pertukaran budaya.

Biara kecil

Dari Buku Cheng Ho, karangan Tan Ta Sen halaman 83, dituliskan kisah Fa Xian seorang Bhikku. Fa Xian dilahirkan di Shan Xi dan hidup di sebuah biara sejak kecil. Dia menjadi Bhikku ketika berusia 20 tahun.

Lima tahun kemudian, dia pergi meninggalkan Chang’an menuju India dengan beberapa Bhikku lain semasa Dinasti Jin Timur. Tujuannya, untuk mencari kitab-kitab suci Buddhis asli.

Mereka ingin mempelajari bahasa Sansekerta dan mengkaji kitab-kitab suci Buddhis di bawah bimbingan guru-guru India di biara-biara terbaik, sehingga mereka dapat menerjemahkan teks-teks tersebut ke dalam bahasa China saat kembali.

Mereka juga ingin memberi penghormatan kepada beberapa tempat yang berhubungan dengan Buddha. Dia memberi deskripsi sangat rinci dan akurat, mengenai perjalanan itu dalam catatan-catatan pribadinya.

Fa Xian berangkat melalui jalur Sutra dan pulang melalui jalan laut. Di India, Fa Xian mengunjungi situs-situs yang menjadi saksi berbagai tahap kehidupan Buddha, ketika beliau mendapatkan pencerahan, dakwahnya, dan kematiannya. Akhirnya ia mencapai Dataran Gangga, dan mengunjungi semua tempat suci.

Salinan naskah

Di Patna, Ibukota Kerajaan Magadha, dia berupaya mendapatkan salinan naskah kitab Vinaypitaka, tentang disiplin-disiplin Vihara. Di sana, ia menghabiskan waktu tiga tahun untuk menyalin naskah tersebut dan pada saat bersamaan, dia menemukan kitab suci lain.

Fa Xian menumpang kapal dagang untuk pulang kembali di muara Sungai Hoogli. Daĺam perjalanan laut, ia singgah dan menetap di Ceylon, salah satu pusat Buddhisme terbesar lainnya pada abad ke-5, selama dua tahun.

Kemudian ia kembali ke Tiongkok pada 413 M dengan koleksi teks-teks suci Buddhis tak ternilai. Dia kemudian menetap di Nanjing dan bekerja dengan bhikku India Buddhababdra yang dikenal dengan pengetahuannya yang luas.

Dalam buku Nusa Jawa Silang Budaya, karangan Dennys Lombard Jaringan Asia 2 Penerbit Gramedia, Dituliskan perjalanan Fa Xian dalam kutipan Nan Zhou Yi Wu Chi.

Diceritakan, perjalanan Fa Xian pulang dari India menumpang kapal dagang dari Kun Lun sempat terdampar di Jawa selama 5 bulan dari Desember 412-Mei 413.

Dalam tulisan tersebut diceritakan, keadaan kapal yang berharga panjangnya 200 kaki, kira-kira 60 M, 20-30 kaki tinggi 600-700 m, ketika itu diserang badai dari India dalam perjalanan kembali ke India. Tetapi sayang, tidak dituliskan di daerah mana Fa Xian terdampar.

Kerajaan Tarumanegara

Terdamparnya Fa Xian, bersama kalangan pedagang dari Kun Lun sebagai pembuka jalan hubungan dagang dari Tiongkok dengan kerajaan Tarumanegara. Dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya, karangan Dennys Lombard, Bagian 2 Jaringan Asia.

Dalam berita Tahunan Dinasti-dinasti Selatan (Songshu dan Liangshu), Tang shu, Xin Tiang Shu dan Song Shi menyebut She Po nama lain dari Pulau Jawa untuk abad ke-5.

Dituliskan Heletan atau Holotan yang terletak di She Po La (nama lain untuk Pulau Jawa) Heletan atau Holotan diduga sebutan untuk Kerajaan Tarumanegara.

Sementara itu, Benny G. Setiono, dalam bukunya, Tionghoa dalam Pusaran Politik, dituliskan dalam kronik Dinasti Tang, disebutkan kedatangan utusan kerajaan Ta-Lo-Mo pada tahun 525, 528, 566 dan 669 M di Tiongkok. To-Lo-Mo ini diduga untuk sebutan Kerajaan Tarumanegara.

Jadi terdamparnya Fa Xian bersama para pedagang dari Kun Lun di Jawa, sehabis pulang dari India sebagai pembuka jalan hubungan dagang dengan kerajaan di Tiongkok. (*)

Oleh Jeremy Huang