Kisah Raksasa dan Pemuda Baik Hati di Balik Dodol Keranjang

oleh -100 views


享受甜蜜的生活,不要回想过去的痛苦

Xiǎngshòu tiánmì de shēnghuó, bùyào huíxiǎng g

òqù de tòngkǔ. Artinya, nikmati hidup yang manis, jangan kenang masa lalu yang pahit.

Setiap menjelang imlek, warga Tionghoa biasanya mengirimkan kue dodol keranjang kepada kenalan, handai taulan dan tetangga di sekitar kediamannya.

READ  Ops Yustisi Polsek Lemahwungkuk Sambangi Warga

Mengirimkan dodol keranjang kepada kawan adalah untuk menjalin persaudaraan yang utuh dan erat, menjalin persaudaraan yang manis, karena bentuk dodol bulat dan manis.

Dodol disebut kue keranjang karena zaman dulu ketika dibuat cetakannya menggunakan keranjang dan dibungkus daun pisang, sehingga terasa wangi dan kuat tahan lama.

Kue keranjang (ada yang menyebutnya kue bakul), atau Nian Gao (年糕) atau dalam dialek Hokkian Ti Kwe (甜棵), adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket.

Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru Imlek. Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang tahun baru Imlek (廿四送尫 Ji Si Sang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah tahun baru Imlek).

Dipercaya, pada awalnya kue ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku (竈君公 Cau Kun Kong) agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga (玉皇上帝 Giok Hong Siang Te).