Kisah Tumbal Dua Nyawa Demi Uang Pesugihan Rp 15 Miliar

oleh -2.919 views

BAGI pelaku supranatural atau mereka yang senang dunia gaib, pasti pernah mendengar uang gaib. Namun hampir bisa dipastikan jika kebanyakan dari mereka tidak mengetahui dari mana asal usul uang tak kasat mata tersebut. Spekulasi pun bermunculan seiring banyaknya rumor di tengah masyarakat terkait keberadaan uang gaib.

Memang harus diakui jika asal muasal uang gaib hingga kini belum ada kesepakatan. Meski begitu, dapat diambil kesimpulan umum, jika uang gaib itu dibagi dua, yakni uang gaib putih dan hitam. Di kalangan supranaturalis, uang gaib hitam sama dengan hasil pesugihan atau ngipri. Sebab penguasanya berasal dari kalangan siluman, setan atau bahkan iblis.

Untuk mendapatkan uang gaib, pelaku pesugihan harus melakukan ritual atau lelakon tertentu. Ritual yang dimaksud jelas bukan dengan cara yang menyenangkan, tapi menyeramkan. Bisa melalui pengorbanan nyawa, misalkan istri, anak kandung atau saudara kandung. Ritualnya juga dilakukan di tempat khusus dan terpencil, atau jauh dari keramaian.

Orang yang menginginkan harta atau uang gaib tidak bisa melakukannya sendiri. Mereka harus memanfaatkan mediator yang kebanyakan bergelar kuncen atau juru kunci tempat-tempat yang dipercaya dihuni siluman yang bisa diajak kerja sama untuk mendatangkan uang gaib.

Namun demikian, meski memanfaatkan mediator, tidak serta merta dana gaib itu akan muncul dengan sendirinya. Ada beberapa ujian yang harus dilalui. Bahkan jika melenceng sedikit saja akan batal dan berakibat fatal. Beberapa di antara ujian itu adalah harus menemui siluman yang akan diajak bekerja sama.

Yang mengerikan, kendati siluman itu sudah berganti fisik berupa hewan atau manusia, tetapi bentuknya tidak seperti hewan atau manusia pada umumnya. Misalnya hewan babi. Bisa saja babi siluman itu memiliki taring yang sangat panjang serta suaranya yang memekakkan telinga atau baunya sangat busuk. Demikian juga dengan manusia, boleh jadi bentuknya tidak seutuhnya manusia, tetapi separo hewan.

Pada saat pertemuan pertama ini, jika pelaku pesugihan mengalami ketakutan akan langsung gagal. Lantas, jika menginginkannya lagi dia harus melaksanakan ritual dari awal yang tentunya mengeluarkan uang lagi untuk membeli ubo rampe (sesajen) dan mahar sesuai perjanjian. Biasanya, pada ritual kedua ini, siluman yang muncul bentuk fisiknya tidak seperti siluman yang pertama.

Jika pada ritual yang kedua ini pelaku pesugihan masih ketakukan juga, maka akan dinyatakan batal dan begitu seterusnya. Biasanya hanya pelaku yang punya tekad baja dan niat kuat yang mampu melakukan pesugihan ini. Bahkan, biasanya yang berani mengorbankan orang-orang yang dicintai peluang berhasilnya tinggi. Sebab, siluman yang mau mendatangkan uang meminta nyawa sebagai gantinya.

“Uang yang disimpan di bank gaib itu biasanya uang curian. Uang itu hanya bisa diwujudkan kalau ada tumbalnya. Tumbal yang paling ampuh adalah tumbal nyawa manusia dan biasanya langsung tokcer. Beberapa makhluk gaib memang menyimpan uang di bank gaib, seperti Nyi Ratu Roro Kidul, Dewi Lanjar atau Rara Kuning, Nyi Blorong dan masih banyak lagi,” ujar Ustad Dul kepada Surya Grage Online, Sabtu (16/11/2019).

Ustad yang tinggal di daerah Wanasaba, Kabupaten Cirebon menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan orang yang ingin melakukan ritual pesugihan di salah satu pantai di Yogyakarta. “Waktu itu, saya lagi main di pantai di Yogya, pas ketemu sama orang Arjawinangun. Saya pikir sama-sama orang Cirebon jadi enggak ada salahnya ngobrol ngalor ngidul,” katanya.

Namun saat ditanya tujuannya ke pantai itu, lanjut Ustad Dul, teman barunya ini, sebut saja Wardi, berkeinginan mencari pesugihan. Ustad Dul mengaku sempat kaget, karena Wardi nekat akan mengorbankan dua putranya sebagai tumbal pesugihan. Dengan dua tumbal itu, ia akan mendapatkan uang sebesar Rp 15 miliar.

“Saya kaget dan sempat saya ingatin supaya ngurungin niat jeleknya itu, tapi dia kayaknya sudah nekat. Saya bujuk, kasian ma anak-anaknya yang enggak berdosa. Hanya ngejar dunia, sampe-sampe anak sendiri dikorbanin. Tetep aja dia enggak mau mundur, jadi ya udah saya bisa berbuat apa,” ungkapnya.

Setelah melakukan komunikasi dengan kuncen, malam itu Ustad Dul melihat Wardi memasuki sebuah gua pinggir pantai untuk melakukan pertapaan. Cukup lama pertapaan itu, karena dilakukan sampai pelaku pesugihan bertemu dengan makhluk yang dipercaya bisa mendatangkan uang gaib.

Usai melakukan pertapaan, Wardi lebih banyak diam dan tak lama kemudian, ia kembali ke Arjawinangun. Dari kuncen gua, Ustad Dul mendapat informasi jika pertapaan Wardi berhasil, namun ia harus rela kehilangan dua putranya yang akan dijadikan tumbal pesugihan. Waktu eksekusi disepakati tidak sampai satu minggu.

“Saya penasaran, akhirnya saya juga minta ke kuncen untuk dipertemukan dengan makhluk gaib yang konon bisa memberi uang. Saya pun disarankan untuk masuk ke gua yang sama. Pas tengah malem, saya ngeliat ada sinar masuk dari atas gua, warna putih. Saya tunggu sampe sinar itu bener-bener turun dan mendekati saya. Setelah ngobrol, ternyata yang dateng itu mengaku sebagai Nyi Roro Kidul,” ucap Ustad Dul.

Diakui Ustad Dul, dirinya sempat ditanya tujuan datang ke gua dan memanggil Nyi Roro Kidul. Setelah diberitahu maksud dan tujuan datang ke gua, Nyi Roro kembali bertanya tumbal apa yang akan diberikan sebagai penggantinya. Ketika itu, Ustad Dul hanya mengatakan, dia tidak mau memberikan tumbal apapun, tapi tetap ingin uang yang barokah.

“Mendengar jawaban saja, Nyi Roro Kidul malah minta saya supaya ke Mbah Kuwu Cirebon saja. Kalau pengen uang putih dan barokah, silakan ke Mbah Kuwu, dan jangan meminta ke sini,” tutur Ustad Dul menirukan jawaban Nyi Roro Kidul.

Akhirnya Ustad Dul pun memilih untuk pulang, kembali ke Cirebon. Sepekan kemudian, ia mendapat kabar jika dua putra Wardi mengalami kecelakaan lalu lintas saat hendak berangkat ke sekolah. Mereka berdua saat berboncengan motor tertabrak mobil lalu meninggal dunia. Selang beberapa menit kemudian, di ruangan khusus yang sudah disiapkan Wardi berserakan uang nominal seratus ribu.

“Saya ditelepon temen yang kebetulan kenal dengan Wardi, katanya dua anak Wardi meninggal karena kecelakaan. Saya cuma bisa diam. Kok ada ya orang tua yang tega numbalin anaknya hanya karena uang Rp 15 miliar. Saya yakin uang itu enggak akan barokah dan cepet habis,” tandas Ustad Dul. (Dy/SGO/dari berbagai sumber)