Kisruh Keraton Kasepuhan, Rahardjo: Sultan Bisa Dipilih Secara Demokratis

oleh -160 views
Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat, saat memukul bedug tanda dimulainya Ramadhan 1441 H lalu.

CIREBON, (SGOnline).-

Di saat Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat tengah terbaring sakit, sekelompok orang yang mengaku masih keturunan Sultan Sepuh XI, mencoba melakukan kudeta. Upaya itu dilakukan sekelompok orang yang dipimpin Rahardjo, yakni menyegel dengan rantai, pintu masuk Dalem Arum, kediaman sehari-hari Sultan Arief dan keluarganya.

Upaya kudeta senyap yang dilakukan Rahardjo, yang mengaku salah satu anak dari Ratu Doli Manawiyah, salah satu anak perempuan Sultan Sepuh XI, dilakukan Sabtu (27/6/2020).

Namun kejadian tersebut luput dari pantauan media dan publik, dan baru ramai, Minggu, (28/6/2020) di media sosial. Dalam video berdurasi 40 detik itu, menunjukkan seorang pria berbaju hitam menggembok Dalem Arum Keraton Kasepuhan.

Tak hanya itu, dalam video lainnya, pria tersebut mengklaim sebagai keturunan Sultan Sepuh XI Radja Jamaludin Aluda Tajul Arifin. Dalam video yang beredar itu, Rahardjo menegaskan siap mengambil alih kekuasaan Kesultanan Cirebon dari tangan Sultan Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat.

“Hari ini, Sabtu tanggal 27 Juni 2020. Kami keturunan asli dari Sultan Sepuh XI Jamaludin Aluda Tajul Arifin. Dengan ini kami menyatakan mengambil alih Keraton Kasepuhan dari tangan saudara Arief (Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat). Demikian statemen kami buat untuk disebarluaskan ke Pemerintah Kota Cirebon, Jawa Barat dan masyarakat Kota Cirebon,” katanya.

Dinilai tak terawat

Sontak kabar tersebut tentu mengejutkan warga dan seluruh kalangan di Cirebon. Sebagian pihak menilai kejadian tersebut hanya ulah sejumlah pihak yang hanya memanfaatkan situasi dan kondisi, bahkan sekedar mencari sensasi.

Namun sejumlah pihak mengaitkan kejadian tersebut dengan sejarah peteng (gelap) yang selama ini disebut-sebut disembunyikan dari publik. Namun Rahardjo sendiri mengaku upaya mencoba mengambil alih tahta lebih kepada melihat kondisi keraton yang disebutnya kurang terawat.

“Semua bangsal kotor. Banyak puntung rokok, bekas botol, kotoran kelelawar, debu dan berkerak. Inilah sebenarnya yang jadi pertimbangan saya untuk mengambil tindakan ini,” kata Rahardjo, saat diwawancara, Minggu (28/6/2020).

Meski berupaya mengambil alih takhta, namun Rahardjo mengaku tidak berambisi menjadi Sultan. Rahardjo bahkan menegaskan tidak menganggap tradisi hak bertahta yang diwariskan, tidak harus dipegang teguh. “Nanti Sultan bisa dipilih secara demokratis. Saya sendiri tidak berambisi menjadi Sultan,” katanya.

Meski hendak mengambil alih takhta, namun saat menjawab pertanyaan wartawan, berkali-kali Rahardjo menyebutkan “Sultan Arief”. Sementara ayahanda Sultan Arief, yakni Sultan Sepuh XIII Maulana Pakuningrat, Rahardjo justru langsung menyebut nama Maulana. (SGO)

Sumber: pikiran-rakyat.com

Hayyyy  hallo..... Mas, Mba... Sis  Bro... dah pada daftar menjadi mahasiswa baru UGJ belum.....ituloh Universitas Swadaya Gunung Jati.... Dulu kalian mengenalnya dengan Unswagati

Diatas ada panduan cara mendaftar online via fasilitas BJB ya....? dan juga panduan untuk melakukan heregistrasi/registrasi bagi yang sudah dinyatakan Lulus....

Semoga kalian bisa lulus dengan jurusan/program studi yang dicita-citakan

Kuliah....kuyyy ke UGJ