Makna di Balik Arsitektur Pecinan di Cirebon

oleh

CIREBON, (SGOnline).-

Menurut WP Zhong mantan dosen dan pendiri Fakultas Arsitektur Universitas Tarumanegara Jakarta, arsitektur rumah warga Tionghoa pada umumnya berdasarkan keseimbangan lingkungan dan alam.

“Pada umumnya, perumahan warga Tionghoa yang dibangun awal 1900-an selalu berporos pada utara selatan, karena Chi datang dari selatan Khatulistiwa dan ada dinding pelindung, yang ditata berorientasi ke dalam,” kata pemerhati budaya Tionghoa, Jeremy Huang kepada Surya Grage Online, Sabtu (15/2/2020).

Hal itu, lanjut dia, mengandung makna sebagai pelindung keluarga. Soalnya, berdasarkan ajaran Kong Hu Cu jika keluarga kuat, masyarakat kuat, kota kuat maka negara juga jadi kuat.
Kemudian di ruang tengah ada sumur langit yang disebut Tien Chong.

Di ruang tengah ini, sumurnya terbuka menghadap langit. Hal itu berfungsi sebagai sirkulasi udara, dimana altarnya menghadap langit terbuka tanpa sajian, kecuali bunga sedap malam yang harum. Selain itu, ada ruang keluarga untuk berkumpul bersama keluarga.

“Lalu ada ruang meja sembahyang yang umumnya berdekatan dengan kamar tidur dari orang yang dituakan. Hal tersebut mengandung arti menghormati orang yang dituakan,” terangnya.

Fasad (bagian muka/wajah bangunan, Red) di atas membentuk seperempat lingkaran. Hal ini sebagai simbol bumi dan bumi adalah lambang kehidupan. Maka pola seperempat lingkaran ini, maknanya bangunan dan rumah tinggal adalah bagian dari kehidupan.

“Bangunan rumah warga Tionghoa umumnya lebar di depan, mengandung arti siap menampung atau terima rejeki.
Keunikan lainnya yang khas pada rumah warga Tionghoa adalah atap yang cenderung berpola gelombang,” ungkapnya.

Pola itu, kata Jeremy Huang lagi, memiliki arti dinamika hidup yang kadang beruntung dan kadang tertimpa ujian. Sebagian besar bangunan milik warga Tionghoa terkena matahari terbit, mengandung arti siap menyongsong kehidupan. (Rilis/Andi/SGO)