Mertua Nyaris Dikorbankan ke Gulang-gulang Akibat Himpitan Ekonomi

oleh -270 views


KEHIDUPAN Een dan suaminya, Arwin (nama samaran) tak semulus yang diidamkan, seperti saat mereka menjalin janji suci di depan penghulu. Bahkan sejak anak pertama mereka lahir, roda ekonomi keluarga kecil yang mereka kayuh pun tak banyak berubah.

Een, Arwin dan kedua orang tua Een tinggal bersama dalam sebuah rumah kecil nan sederhana di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Aswin yang tak memiliki pekerjaan tetap, membuat pasangan suami istri ini selalu berjibaku agar dapur tetap ngebul, meski tak jarang mereka harus menahan lapar hingga seharian karena tak memiliki uang.

Terlebih, si kecil sebut saja, Kenanga, harus diberi makanan yang cukup karena masih dalam masa pertumbuhan. Meskipun tak punya cukup uang, Een dan Arwin selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak semata wayang mereka.

Rupanya, himpitan ekonomi membuat mereka putus asa. Utang menumpuk, barang-barang tak ada lagi yang bisa dijual dan kemiskinan yang terus mendera menbuat Een dan Arwin mencari cara instan, yakni mendapatkan kekayaan dengan cepat. Akhirnya pasutri yang gelap mata ini mendatangi salah seorang dukun, Komar (nama samaran) di daerah Kalijaga, Cirebon.

“Mereka meminta solusi ke dukun supaya cepat kaya. Lalu dukun hanya mensyaratkan minta kaki dua. Syarat itu pun akhirnya disanggupi Een dan Aswin, karena dalam pikirannya hanya bisa cepat kaya dan keluar dari himpitan ekonomi yang membelit mereka selama ini,” ungkap Sadin, kerabat Arwin, Rabu (26/2/2020).

READ  Warga Drajat Jadi Korban Ledakan Tabung Gas 5 Kg

Saat pertemuan dengan Komar, Aswin menyerahkan semua kebutuhan yang diminta sang dukun, termasuk pembelian sesaji. Een dan Arwin hanya disuruh menunggu hingga waktu yang sudah ditentukan atau tepatnya dua kali malam Jumat setelah mahar disepakati.

“Sejak kepulangan dari rumah dukun itu, keliatannya Een maupun Arwin sudah menyusun banyak rencana, beli rumahlah, beli mobillah, beli ini dan beli itulah. Pokoknya semua rencana pembelian sudah dicatat rapi, tinggal direalisasikan setelah uang gaibnya dhohir,” ujar Sadin.

Pas tengah malam Jumat minggu kedua, Een dan Arwin mulai gelisah. Pandangan mereka selalu mengarah pada lemari kayu yang sengaja dipersiapkan untuk menyongsong kedatangan uang gaib. Tepat pukul 24.00 WIB, lemari di kamar mereka bergetar cukup hebat. Setelah dibuka, uang langsung berhamburan. Kebahagiaan mereka pun membuncah.

Akan tetapi di tengah kegirangan, Arwin mendengar suara gaduh di kamar mertuanya. Karena penasaran, ia pun memberanikan diri melihat orang tua istrinya. Ia terkejut bukan kepalang, karena melihat keduanya tengah meronta-ronta seperti sedang dicekik makhluk habis.

“Matanya melotot dan tangannya seperti memegang lehernya sendiri. Napasnya tersengal-sengal. Arwin rupanya sadar, yang dimaksud dua kaki oleh dukunnya itu nyawa kedua mertuanya. Tak berpikir lama, Arwin lantas menolong kedua mertuanya dari cengkraman gulang-gulang. Begitu mertuanya tersadar, uang yang terlanjur wujud di lemari kamarnya pun hilang kembali. Awalnya Arwin sempat ingin membiarkan kedua mertuanya dihabisi Gulang-gulang, namun akhirnya ia merasa iba,” jelas Sadin. (KBI/SGO)