Misteri Kuda Sembrani dan Kecelakaan di Kedungarum

oleh -266 views

GENAP satu bulan kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di Jalan Mohamad Toha, Desa Kedungarum, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kini insiden kecelakaan tunggal dialami bus Luragung. Bus jurusan Kuningan-Jakarta nopol E-7747-Y ini menabrak tugu Desa Kedung Arum pada Kamis (14/11/2019).

Sebelumnya, pada tanggal 14 Oktober 2019, di Jalan Mohamad Toha sempat terjadi tabrakan beruntun yang melibatkan satu unit bus Luragung, tiga unit mobil minibus, empat motor dan satu unit mobil box. Entah ada apa dengan Desa Kedungarum? Wartawan Surya Grage Online mencoba meneliti lebih jauh tentang sejarah Desa Kedungarum.

Menurut informasi dari sesepuh dan tokoh masyarakat, Desa Kedungarum berdiri pada permulaan tahun 1816. Konon sebelumnya telah berdiri desa yang bernama Ciporang yang membawahi kampung Kedungarum dan Padarek. Era itu masih dalam masa penjajahan Belanda, kepala Desa Ciporang merasa wilayahnya terlalu luas sehingga diadakanlah pemekaran menjadi Desa Padarek dan Desa Kedungarum. Dengan demikian lahirlah Desa Kedungarum pada tanggal 1 April 1816.

Ada yang unik di balik nama Kedungarum karena mempunyai cerita tersendiri. Konon pada dahulu kala Kedungarum bernama “Dukuh Kawung”, suatu kampung yang banyak pohon kawungnya. Di salah satu pohon kawung terpancar mata air yang jernih di suatu kubangan (kedung). Kubangan ini terdapat di Dusun Cikedung yang dipercaya angker oleh masyarakat sekitarnya.

Barang siapa yang melewatinya dalam keadaan pikiran kosong akan sakit sesudahnya, bahkan sejumlah warga pernah melihat seseorang memandikan kuda sembrani di kubangan itu. Ajaibnya sesudah memandikan kuda sembrani, kudanya hilang entah kemana sehingga tersiar kabar menggegerkan bahwa bila memandikan kuda di kubangan ini, maka kudanya akan menjadi sehat, gemuk dan larinya sangat kencang!

Banyak masyarakat sekitar membuktikannya, sehingga kabar ini menjadi buah bibir dan nama desa ini menjadi harum. Dengan demikian Dukuh Kawung berubah nama menjadi Kedungarum. Lama-lama dengan bergantinya zaman, sekitar 1960-an kubangan ini tidak manjur lagi sampai sekarang, sehingga tidak ada lagi yang memandikan kudanya di sini, tapi kubangan ini tetap dimanfaatkan sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan masyarakat sekitar dengan cara mengalirkannya ke perumahan penduduk.

Pantas saja, tugu yang tertabrak Bus Luragung tidak mengalami kerusakan yang begitu parah. Padahal logikanya bila tembok atau apapun ditabrak oleh kendaraan besar akan mengalami kerusakan, namun yang terjadi justru bus Luragungnya yang rusak parah.

Seperti disampaikan Ki Oman, pakar supranatural asal Cirebon ini mengatakan, berdasarkan penerawangannya, saat kecelakaan terjadi, kuda sembrani tengah melintas dan akhirnya sopir bus membanting setir hingga menabrak pohon dan berhenti setelah menabrak tugu kuda yang kebetulan ada di sana. “Kebetulan saat kecelakaan ada kuda sembrani (makhluk gaib, Red) lewat sehingga membuat supir bus membanting setir dan menabrak tugu,” jelas Ki Oman.

Ki Oman berpesan kepada seluruh pengendara terutama saat malam Jumat kliwon, untuk memperbanyak doa serta menyalakan klakson sebanyak tiga kali saat melintasi Jalan Mochamad Toha, Desa Kedungarum, terutama di tikungan dan di depan tugu.

“Pesan saya bagi pengendara untuk selalu berdoa dan membunyikan klakson di pertigaan, dan sekitar tugu kuda Desa Kedungarum, selain pertanda kendaraan lain yang berada di depan saat akan melintas, juga pertanda untuk makhluk astral agar tidak bertabrakan seperti kecela kaan yang baru saja terjadi,” tutur Ki Oman.

Terlepas dengan ada atau tidaknya makhluk astral saat kecelakaan terjadi, sebaiknya tetap waspada dan berhati-hati saat berkendara. Cek selalu kondisi kendaraan agar mengurangi risiko kecelakaan, bila mengantuk jangan memaksakan diri untuk berkendara dan tetap ingat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. (Andin/SGO)