Paguyuban Sopir dan Pasir Gelar Audiensi di DPRD Kuningan, Ini Hasilnya

oleh -97 views


KUNINGAN, (SGOnline).-

Paguyuban Supir Dump Truck Kuningan (PSDTK) akhirnya bertatap muka dengan pengusaha galian C di Ruang Sidang Paripurna, DPRD setempat. Audiensi yang difasilitasi wakil rakyat tersebut membahas tuntutan kenaikan harga pasir yang dilakukan sepihak, Jumat (5/6/2020) pukul 09.00 WIB.

Selain lima perwakilan PSDTK dan pengusaha galian C, pertemuan juga dihadiri anggota Komisi III serta Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdi sebagai pimpinan rapat. Reaksi PSDTK bermula dari kenaikan harga yang diberlakukan pengusaha pasir sebesar Rp 75.000 per dump truk.

Angka tersebut dinilai sangat memberatkan paguyuban supir, terlebih kenaikan dilakukan saat pandemik corona. Bahkan paguyuban mengancam tidak akan membeli ke pengusaha pasir dan bakal dialihkan ke milik warga secara manual, karena harganya tidak naik.

Ketua Paguyuban Pengusaha Pasir Galian C, Dudi Bahrudin, usai audiensi menjelaskan, harga yang disepakati, yakni kenaikan Rp 50.000 untuk dump truck kecil dan Rp 75.000 untuk dump truck besar.

“Kenaikan harga pasir merupakan konsekuensi tetap beroperasi di masa pandemi covid-19. Padahal, sebelumnya, kita sempat sepakat untuk tidak beroperasi selama wabah corona. Adapun harga baru ini mulau berlaku hari Senin, tanggal 8 Juni 2020,” papar Dudi.

Latar belakang beroperasinya kembali pertambangan pasir, tambah Dudi, terkait tuntutan pekerja pasir yang jumlahnya banyak dan berasal dari warga sekitar. Mereka menginginkan agar tetap bisa bekerja karena selama pandemik pekerja tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

READ  Dansektor 7 Satgas Citarum Pantau Limbah Ipal PT Nagasakti, Ini Hasilnya

“Mereka juga sama terdampak pandemi ini, jadi ingin punya penghasilan dari bekerja di tambang pasir seperti sebelum wabah. Dengan kenaikan ini berarti satu dump truk besar berkapasitas 8 kubik mencapai Rp 525.000. Sedangkan dump truk kecil dengan volume 4 kubik, jatuhnya Rp 325.000,” paparnya.

Kenaikan dinilai wajar

Harga tersebut, imbuhnya, di luar pengeluaran lain, seperti ongkos operator, upah korek dan ongkos angkut yang jadi tanggung jawab sopir. “Kenaikan ini wajar, karena kita juga perlu penambahan biaya operasional dan para sopir pun menuntut harga wajar. Istilahnya batu turun keusik naek, akhirnya kita sepakat di harga segitu,” tandas Dudi.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Supir Dump Truck, Anang menjelaskan, adanya tuntutan tersebut terkait banyaknya pertanyaan dari konsumen yang merasa heran ada kenaikan harga saat pandemi covid-19. “Saat masa pandemik kok tiba-tiba ada kenaikan harga pasir dan ini juga membuat kami sangat kesulitan menjual ke masyarakat. Kami mohon jangan dulu naik, karena kami juga terdampak wabah covid-19 ini,” ungkap Anang.

Ia juga menjelaskan, sebelumnya antara paguyuban supir dan pengusaha galian sempat melakukan beberapa kali pertemuan untuk membahas kenaikan harga pasir, namun hingga pertemuan terakhir tidak ada kesepakatan. “Akhirnya kami sepakat dibawa ke DPRD Kuningan,” ujarnya. (Salawati/SGO)