Panjang Jimat di Tiga Keraton Cirebon Berlangsung Khidmat

oleh -97 views

CIREBON, (SGOnline).-

TIGA keraton di Cirebon, yakni Keraton Kanoman, Kasepuhan, Keraton Kacirebonan menggelar upacara panjang jimat. Tradisi panjang jimat atau pelal ini merupakan puncak tradisi untuk memeringati Maulid Nabi Muhammad SAW. Adapun tujuan untuk mengenang dan meneladani Nabi Muhammad SAW.

Sejak Minggu (10/11/2019) pagi ribuan masyarakat bukan hanya dari Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) tetapi dari luar daerah sudah memadati ketiga keraton. Mereka sengaja datang untuk menyaksikan tradisi tahunan tersebut.

Berdasarkan pantauan Tim Surya Grage Online, sejumlah pejabat daerah, provinsi, pusat maupun duta besar negara sahabat tampak hadir dalam tradisi tahunan tersebut, seperti Ketua DPRD Kota Cirebon, Hj. Affiati A.Ma., dan suami H. Zaenal Mutaqin hadir di Keraton Kanoman, Bupati Cirebon H. Imron Rosyadi dan Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, M. Luthfi terlihat hadir di Keraton Kasepuhan.

 

Upacara panjang jimat terlihat lebih ramai di Keraton Kasepuan dan Kanoman. Di kedua keraton itu, tampak ribuan warga memadati seluruh area keraton sejak Minggu pagi hingga malam hari. Padahal tradisi pelal baru digelar sekitar pukul 19.00 WIB. Hal itu juga tak lepas dari banyaknya masyarakat yang menikmati suasana panjang jimat di luar keraton, yakni Alun-alun Kasepuhan.

Bahkan Maulid Nabi Muhammad SAW juga turut digelar di Kompleks Astana Makam Sunan Gunung Jati yang terletak di Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Kompleks makam tersebut juga turut dipadati ribuan orang yang sengaja ingin menghabiskan waktu malam Maulid Nabi. Tidak sedikit di antara mereka yang mengharapkan keberkahan.

Di Keraton Kanoman, upacara digelar sekira pukul 21.00 WIB. Hal itu ditandai dengan sembilan kali bunyi lonceng Gajah Mungkur di gerbang depan keraton. Suara lonceng tersebut merupakan tanda dimulainya upacara panjang jimat. Setelah lonceng dibunyikan, Pangeran Patih PRM Qodiran mewakili Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin yang menggunakan jubah emas keluar dari ruang Mande Mastaka menuju Bangsal Jinem.

Tiba di Bangsal Jinem, pangeran menerima sungkem dari pangeran komisi dan rohim, sebagai tanda dimulainya proses panjang jimat. Selama prosesi upacara digelar, Pangeran Patih sama sekali tidak diperkenankan bicara sepatah kata pun. Ini dilakukan sebagai simbol istiqomah.

Tidak hanya lonceng yang ditabuh, pembukaan upacara panjang jimat juga ditandai dengan tiupan pluit, tujuannya mengisyaratkan kepada warga agar memberikan jalan bagi iring-iringan famili yang diikuti abdi dalem menuju langgar alit yang berjarak sekitar 500 meter.

Setelah pangeran komisi memberikan sungkem kepada Pangeran Patih, iring-iringan mulai berjalan. Pangeran patih bersama famili berada paling depan. Dalam perjalanan menuju langgar alit, seluruh iring-iringan membacakan salawat nabi. Rombongan diikuti juga wanita bangsawan yang tidak sedang datang bulan. Mereka membawa barang pusaka keraton dan perlengkapan rumah tangga seperti piring, lodor, kendi dan barang peningglan sejarah lainnya.

Perjalanan rombongan diawali dari depan pendopo keraton, kemudian melewati pintu Si Blawong yang dibuka hanya pada prosesi maulid saja dan berakhir di Masjid Agung Kanoman yang dibangun tahun 1679 Masehi. Saat perjalanan menuju masjid, ribuan warga yang sudah menunggu sejak lama kontak merangsek berusaha mendekati rombongana. Tidak sedikit warga yang sengaja menghampiri sultan hanya untuk bersalaman dan berharap mendapat berkah.

Setiba di masjid, seluruh rombongan duduk rapi di dalam masjid. Di tempat itu riwayat Nabi Muhammad SAW dibacakan, demikian pula dengan pembacaan barjanji, kalimat thoyyibah, salawat Nabi dan diakhiri dengan berdoa bersama. Setelah acara usai, sekira pukul 24.00 WIB, seluruh nasi dan lauk pauk yang dibawa rombongan dibagikan kepada keluarga sultan, famili, abdi dalem, dan seluruh warga yang berada di luar halaman masjid yang sudah menunggu sejak siang hari.

Setelah proses doa bersama selesai, seluruh rombongan kembali ke tempat semula. Pangeran Patih dan keluarganya langsung masuk ke dalam keraton. Sementara, rombongan yang membawa benda pusaka kembali menuju langgar alit.

Juru bicara Kesultanan Kanoman Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina berharap, dalam peringatan Maulid Nabi ini bisa mendapatkan safa’at dan barokahnya, sehingga bisa meneladani sifat-sifat kebaikan Rasulullah dan bisa menghindari apa yang memang dilarang agama. “Alhamdulillah pelaksanaan prosesi panjang jimat ini dipenuhi masyarakat, ditambah cuaca yang cerah sehingga acara ini berjalan lancar,” kata Ratu Arimbi di sela acara.

Ia pun meminta agar agenda ini dijadikan nilai kebudayaan yang perlu dilestarikan. Oleh karena itu, ia menginginkan generasi muda untuk bisa berpartisipasi dan berperan aktif, sehingga panjang jimat dapat terjaga dengan baik.

“Ini adalah kekayaan budaya yang setiap tahunnya dilakukan, jadi saya ingin generasi muda bisa berpartisipasi dan berperan aktif dalam menjaga kebudayaan yang sudah berjalan lama,” tuturnya.

Malam Pelal Ageng Panjang Jimat yang diselenggarakan di Keraton Kanoman Cirebon ini dimaknai sebagai puncak rangkaian memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Pelal Ageng diartikan sebagai malam keutamaan yang besar, yaitu malam di mana Rasulullah SAW lahir ke dunia.

Hal yang tak jauh berbeda juga dilakukan Keraton Kasepuhan. Dalam iring-iringan rombongan pembawa benda-benda pusaka terdapat makna yang menggambarkan sejarah di dalamnya, mulai perjalanan Nabi Muhammad SAW sampai kepada empat sahabat setianya, Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Ali Thalib.

Dalam beberapa kesempatan, Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat menandaskan jika inti dari ritual panjang jimat bukanlah benda-benda pusaka itu. Namun esensi panjang jimat adalah sebuah pusaka yang wajib dipelihara secara terus-menerus oleh seluruh umat Muslim, yaitu syahadat. “Sebagai umat Islam, kita tidak boleh lepas dari dua kalimat syahadat, dari lahir sampai ajal menjemput nanti ya harus diakhiri dengan syahadat,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, panjang jimat merupakan singkatan dari “diaji” dan “dirumat” yang berarti dipelajari dan diamalkan kembali. Untuk itu, putra dari Sultan Maulana Pakuningrat ini meminta agar masyarakat tidak mengikuti ritual panjang jimat hanya sebagai tradisi tapi juga bisa meneladani Nabi Muhammad SAW.

PRA Arief menyontohkan, salah satu suri teladan Nabi Muhammad SAW yang bisa diikuti adalah menjaga lisan. Ini sejalan dengan kepribadian Rasulullah SAW yang selalu berkata santun, baik dan penuh kedamaian. Yakinlah jika kita mengikuti apa yang dicontohkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dunia ini akan damai.

PRA Arief tidak menampik jika dalam tradisi pelal ini ada ruang sosial budaya dan ekonomi, sehingga upacara panjang jimat tersebut bukan hanya milik umat Islam saja, tetapi juga umat dari agama lain. (Bobby/Mad/SGO/berbagai sumber)