Pedagang Kecil Keluhkan Penurunan Omset Lebih dari 50 Persen

oleh
Foto: Republika

CIREBON, (SGOnline).-

Pandemi covid-19 yang terjadi hampir delapan bulan terakhir, membuat omset pedagang turun drastis. Bahkan penurunannya lebih dari 50 persen. Kondisi tersebut membuat mereka kelimpungan, terlebih pedagang yang tidak memiliki tempat jualan sendiri.

“Tempat saya jualan ini sewa, setahun Rp 18 juta dan sudah berjalan enam bulan. Awal jualan, per hari masih dapat Rp 400.000 sampai Rp 500.000. Tapi makin ke sini malah turun, sekarang dapat 100.000 atau Rp 200.000 saja sudah untung,” kata Rina, pedagang warkop di Jalan Evakusi, Kota Cirebon, Sabtu (26/9/2020).

Diakui dia, penjualan tetap lesu meskipun pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah dicabut. Dirinya mengira, pendapatan terus membaik seiring era adaptasi kebiasaan baru. Namun dugaannya ternyata salah. “Sekarang mah cuma bisa pasrah. Boro-boro mikir balik modal untuk bisa nutup sehari-hari saja sudah untung,” ungkapnya.

Hal yang sama dikatakan Roni. Pedagang bubur ayam di kawasan Jalan Kesambi ini terpaksa menurunkan volume jualannya. “Sebelum corona, sehari saya bisa dapat Rp 750.000. Tapi sekarang paling mentok Rp 400.000, itu juga jualannya sampai jam 11.00 WIB.

“Kalau sebelum ada corona, jualan jam 06.00 WIB selesai jam 09.00 WIB. Sekarang jam 11.00 WIB, itu juga terkadang masih ada sisa. Padahal saya sudah ngurangin bubur sampai setengahnya. Biasanya sih sehari bisa 5 kilo,” tuturnya.

Sementara itu, Afdal, tukang cukur yang mangkal di daerah Kampung Baru Kesambi terpaksa mengurangi jam operasionalnya. Biasanya, ia mulai buka pukul 10.00 WIB hingga 21.00 WIB. Namun akibat pandemi, terpaksa dibatasi separuhnya.

“Jam operasional sekarang maksimal hanya enam jam sehari. Itu juga dibagi tiga sesi, pukul 10.00 WIB – 12.00 WIB, pukul 14.00 WIB – 16.00 WIB dan pukul 19.00 WIB – 21.00 WIB. Kalau untuk pelanggan dari dulu sampai sekarang berkisar 20 orang per hari,” ucapnya. (Ruddy/SGO)