Pembangunan Tugu di Kawasan Curug Goong Terganjal Surat Satpol PP

oleh -467 views

KUNINGAN, (SGOnline).-

Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kuningan melayangkan surat teguran terhadap pembangunan tugu non bangunan. Surat yang dikeluarkan, Senin (29/6/2020) itu ditujukan kepada Gumirat Barna Alam, di kawasan Curug Goong, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur.

Kasat Pol PP Kuningan, Indra Purwantoro, menjelaskan, surat teguran dikeluarkan lantaran tidak ada kelengkapan izin administrasi dalam pembangunan.

“Sebelum mengeluarkan surat teguran, kami melakukan pengawasan terlebih dahulu ke lokasi pada hari Jumat, 26 Mei 2020. Surat teguran ini berlaku hingga tujuh hari ke depan. Dalam masa tenggang diharapkan pemilik bangunan melengkapi perizinan,” kata dia.

Sementara itu, warga dan Humas MUI (Majelis Ulama Indonesia, Red), Desa Cisantana, H Abidin saat ditemui di rumah warga desa setempat, mengapreasiasi kinerja pemerintah daerah.
“Kami sangat mendukung upaya penertiban di lingkungan masyarakat,” kata Abidin.

Sebab, lanjut mantan anggota DPRD Kuningan ini, pembangunan tugu non bangunan yang berada di sekitar Curug Goong merupakan kawasan resapan. Meski dilakukan di tanah pribadi, namun tidak seenaknya tanpa memperhatikan lingkungan.

Tidak ingin ada konflik

Di sisi lain, pembuatan tugu non bangunan itu, diketahui sebagai tempat terakhir pemakaman Djati Kusamah (Pupuhu Akur Sunda Wiwitan, Red).
”Pembuatan tugu juga tidak mendapat persetujuan warga sekitar. Hal itu dibuktikan ketika kami audensi dengan anggota DPRD Kuningan beberapa waktu lalu,” ungkapnya.

Hal senada dikatakan Ketua Pusat Dakwah Islam Kecamatan Cigugur, H Suhlan. Ia menyebutkan, tindakan yang dilakukan pemilik lahan yang mengatasnamakan masyarakat Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan. “Tentu hal ini memantik kenyamanan ibadah warga setiap harinya,” kata dia.

Sebab, kata Suhlan, Cigugur merupakan miniatur Indonesia karena memiliki ragam budaya dan agama. ”Kami tidak ingin ada konflik, apalagi kontak fisik ketika pembangunan itu dipaksakan berdiri,” ujarnya.

Tidak ingin terjadi kontak fisik, kata Suhlan, di Kecamatan Cigugur ada sebuah rumah atau keluarga tertentu. “Tidak sama memiliki satu agama atau keyakinan. Bisa di cek langsung bahwa di daerah kami dalam satu keluarga itu tidak memeluk satu agama tertentu,” katanya.

Dinilai sumir

Terpisah, Oki Satrio yang mengklaim sebagai juru bicara masyarakat AKUR, saat ditemui di Lingkungan Paseban, membenarkan adanya surat dari Satpol PP Kuningan. “Betul ada surat dari Pol PP, kemarin diterimanya,” ucap dia.

Akibatnya, pembangunan tugu non bangunan sekarang terhenti. “Sebenarnya ini dibangun untuk pasarean (pemakaman keluarga, Red). Hal ini sesuai permintaan sepuh kami. Djati Kusamah yang kini berusia 84 tahunan,” terangnya.

Pengerjaan tugu non bangunan, kata dia, merupakan tetengger dalam istilah kesundaan. Sebab, obyek tersebut bukan tugu tapi hanya batu setinggi 3 meter lebih. Ia menganggap, tindakan Satpol PP ini sumir. ”Masa pemakaman harus dilengkapi IMB dari Kesbangpol,” tukasnya. (Ruddy/SGO)

Hayyyy  hallo..... Mas, Mba... Sis  Bro... dah pada daftar menjadi mahasiswa baru UGJ belum.....ituloh Universitas Swadaya Gunung Jati.... Dulu kalian mengenalnya dengan Unswagati

Diatas ada panduan cara mendaftar online via fasilitas BJB ya....? dan juga panduan untuk melakukan heregistrasi/registrasi bagi yang sudah dinyatakan Lulus....

Semoga kalian bisa lulus dengan jurusan/program studi yang dicita-citakan

Kuliah....kuyyy ke UGJ