Penanganan Kasus Kekerasan Seksual pada Perempuan dan Anak Dinilai Sangat Lamban

oleh

KUNINGAN, (SGOnline).-

Naiknya angka kekerasan seksual pada perempuan dan anak di Kabupaten Kuningan, menjadi sorotan aktivis Perempuan HIV dan Perlindungan Anak, Lenny Maryani. Ia menilai, penanganan kasusnya di Kabupaten Kuningan teramat lambat.

Dalam kunjungannya ke Kabupaten Kuningan, Senin (3/8/2020), aktivis Rampak Polah ini, mengaku prihatin dengan pola penanganan saat menerima laporan dari korban pelecehan seksual.

“Sangat prihatin, seharusnya pemerintah itu cepat dan responsif dalam penanganan kasus ini. Saat saya berkunjung, ada dua kasus pencabulan yang dianggap remeh pemerintah, terlebih saat korbah di bawah umur,” ujarnya.

Leni yang juga sebagai penasehat PIRA ini, amat trenyuh ketika mendengar ada korban pelecehan seksual yang menimpa seorang balita, terlebih ibu korban tidak mendapat pendampingan secara psikolog.

“Ya ini seharusnya gerak cepat. Sebab, saya lihat kemarin psikis ibunya sudah kena. Ia terlihat sedih, dan anaknya pun sekarang sedang sakit. Kalau tidak segera ditangani, ibunya akan lebih depresi dan itu ga baik bagi perkembangan anak,” tandasnya.

Leni pun merasa miris ketika melihat lingkungan sekitar, terutama stakeholder yang menangani, justru mengintimidasinya. “Bahkan saya prihatin, ada kasus seorang ibu menggauli anaknya sejak berumur 14 tahun, hingga anak itu merasa ketagihan. Tapi ironisnya, kasus itu lenyap begitu saja,” ujarnya.

Perlindungan hukum

Akibat kasus tersebut, kini Leni tengah menyiapkan advokasi perlindungan hukum secara gratis, dan siap mendampingi saat korban dan ibunya melapor. Namun Leni tidak bisa menyebutkan daerah mana yang menjadi korban pelecehan tersebut.

“Karena kita akan membawanya ke ranah hukum. Nanti saja kalau sudah tertangkap baru akan saya kasih tahu,” ungkapnya.

Leny menambahkan, kasus yang kini sedang diproses adalah kasus sodomi. “Itu juga sama lamban. Ini akan menjadikan anak juga sebagai predator, kalau anak itu tidak ditangani dengan segera. Kuningan ini seharusnya punya rumah singgah dan dokter concelor,” tandasnya.

Leni pun berharap, agar masyarakat, aparat dan perangkat desa, lebih peduli saat mendengar permasalahan ini. “Bukan malah menstigma korban. Kali ini korban melaporkan kepada pihak yang berwajib. Bahkan di Kuningan setahu saya banyak kasus-kasus seperti ini tidak melapor, karena kebanyakan korban pelecehan seksual itu sudah mendogma dirinya sendiri jika ia sangat tidak berguna,” imbuhnya.

Menyikapi permasalahan tersebut, tambah Leni, seharusnya korban mendapatkan perlindungan hukum dan layanan concelor, sehingga dapat teratasi dengan tuntas. (Ruddy/SGO)