Perbedaan Harus Jadi Perekat Persatuan Anak Bangsa

oleh -168 views

KUNINGAN, (SGOnline).-

Sebagai warga negara Indonesia sepatutnya kita merasa bangga, karena negara yang kita cintai ini memiliki banyak keragaman, baik suku, budaya, ras dan agama. Keberagaman tersebut tentunya membutuhkan sikap toleransi antarsesama yang memiliki latar belakang berbeda ini.

Keberagaman merupakan hal yang positif jika dilihat dari sudut pandang yang benar. Tentu kita harus saling mendukung agar perbedaan-perbedaan yang ada dapat digunakan untuk membuat hal-hal positif. Perbedaan justru harus saling menguatkan. Beda budaya, beda adat istiadat, beda kepercayaan, beda cara berpakaian, beda kebiasaan makanan, beda dialek, tetapi satu dalam komitmen bernegara, NKRI.

Seperti halnya yang dilakukan ibu-ibu dari berbagai latar belakang yang menamakan diri, Jaga Pelita (Jaringan Gerakan Perempuan Lintas Agama) yang bersilaturahmi ke Biara CB Nir Awirana Cigugur.

Sri Rejeki, salah seorang dari ibu-ibu ini mengatakan, silaturahmi dalam bentuk saling berkunjung ini adalah cara sederhana dalam merawat persatuan dalam perbedaan. “Silaturahmi dalam perbedaan keyakinan tetap harus dijalin dan dijaga, semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujar Pendeta dari Gereja Kristen Pasundan Cigugur ini, Selasa (5/11/2019).

Jaga Pelita sendiri terbentuk atas dasar keinginan dari ibu-ibu yang tergabung di dalamnya untuk merawat persaudaraan dalam bingkai persatuan. “Kita berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, budaya, adat istiadat, keyakinan, cara berpakaian, kebiasaan makanan, profesi, justru perbedaan-perbedaan inilah yang menyatukan kita,” ujar Sri.

Sementara, Heni Susilawati, salah satu anggota yang berprofesi sebagai dosen ini mengaku senang bisa bergabung dengan Jaga Pelita. Komunitas lintas agama yang sangat berperan sebagai perekat keberagaman di Kabupaten Kuningan. “Jaga Pelita menunjukkan betapa pentingnya relasi inklusif untuk menjadi bagian dari problem solving yang memerlukan sentuhan humanis yang universal,” jelas Heni.

Bagi Heni, beragam masalah bisa jadi bahan diskusi yang produktif mulai dari isu HAM, kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan, budaya, politik dan hukum. “Tentu maslahatnya tidak sekedar diskusi, tetapi memberi solusi konkrit,” tambahnya.

Dengan bersilaturahmi ke Biara CB Nir Awirana Cigugur, mereka jadi tahu jika suster-suster yang ada di sana juga memiliki latar belakang yang berbeda-beda pula. “Dengan bersilaturahmi ke Biara CB kita jadi tahu keberadaan suster yang ada di cigugur, mereka dari berbagai daerah seperti Maluku, Timor Leste, Bengkulu dan Jateng,” ujar Ketua Fatayat NU Kuningan, Titin Suhartini.

Mendapatkan kunjungan tersebut, Suster Adriana Yuliana dari Biara CB Nir Awirana Cigugur mengaku sangat senang dan menyampaikan rasa terima kasihnya. “Luar biasa, terima kasih banyak sudah mengajak ibu-ibu ke biara. Berbeda bukan menjadi penghalang untuk kita menjalin kebersamaan dan silahturami, berbeda itu indah,” tandas Suster Adriana. (Andin/SGO)