Refleksi Hari Bhayangkara, Polisi tak Dididik untuk Takut

oleh -241 views

KUNINGAN, (SGOnline).-

Dulu, kepolisian berada di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dengan nama, Djawatan Kepolisian Negara dan hanya bertanggung jawab masalah administrasi. Sedangkan untuk operasional bertanggung jawab kepada Jaksa Agung.

Kemudian pada 1 Juli 1946, melalui Penetapan Pemerintah tahun 1946 No. 11/S.D. Djawatan Kepolisian Negara bertanggung jawab langsung kepada Perdana Menteri. Sejak saat itulah di Indonesia, setiap tanggal 1 Juli diperingati sebagai Hari Bhayangkara atau hari lahirnya Kepolisian RI.

Bertepatan Rabu 1 Juli 2020, Polri memeringati HUT ke-74 Bhayangkara. Seorang purnawirawan polisi, Purnama, yang kini terjun menjadi politisi, menceritakan suka dukanya saat menjadi abdi negara tersebut.

“Saya jadi polisi di dua zaman. Selama itu, saya lihat pemerintah memperhatikan perbaikan fasilitas bagi lembaga kepolisian,” ungkapnya mengawali perbincangan dengan awak media, Rabu (1/7/2020).

Ia menuturkan, bagi seorang polisi dalam bekerja sudah tidak perlu memikirkan lagi biaya, karena sudah cukup diberikan negara. “Maka berbahagialah bagi para penerus saya di kepolisian, juga bagi rekan-rekan saya yang masih bertugas. Terus tingkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan baik,” ujarnya.

Suka duka

Ketika ditanya suka duka saat bertugas di kepolisian, Purnama menyebut banyak duka daripada sukanya. Sebab menurutnya, tugas polisi itu tidaklah menyenangkan, karena menyangkut kemerdekaan orang.

“Orang itu kan maunya bebas, naik motor tidak pakai helm tak punya SIM, bebas. Karena kebanyakan mereka belum paham, jadi polisi itu tidak menyenangkannya di situ,” ungkapnya.

Sebaliknya, imbuh pria berpangkat terakhir Ajun Komisaris Polisi ini, mengingatkan, jika didukung kesadaran masyarakat yang tinggi, tugas polisi itu bisa ringan. Soalnya, keamanan itu bukan tugas polisi saja, tapi menjadi kebutuhan bersama.

“Coba, mana bisa membangun, jika tidak ada keamanan di masyarakat. Menurut saya, keamanan itu syarat utama dalam membangun di segala bidang kehidupan,” imbuhnya.

Dibekali keahlian

Sukanya jadi polisi, dikatakan Purnama, adalah saat dirinya merasa bisa berbakti pada bangsa dan negara ini di jalur yang benar. Ia menjadi anggota kepolisian pada tahun 1982. Pertama bertugas di Polres Sumedang, kemudian jadi intelijen di Polda Jabar dan pindah ke Polwil Cirebon.

“Lalu saya pindah ke Polresta Cirebon, Polres Kuningan, Polres Majalengka dan terakhir kembali ke Kuningan lagi,” tutur mantan Kapolsek Ciniru, Polres Kuningan ini.

Sebagai seorang manusia biasa, saat bertugas, rasa takut itu ada. Tapi diakuinya, polisi itu tidak dididik untuk takut, karena dibekali keahlian serta dipersenjatai.

“Kalau sekarang saya sudah lepas dari kode etik kepolisian. Namun justru saat ini, saya lebih leluasa memberikan pengabdian kepada masyarakat. Jika dulu sebagai alat negara, sekarang sebagai wakil rakyat,” tandasnya. (Ruddy/SGO)

Hayyyy  hallo..... Mas, Mba... Sis  Bro... dah pada daftar menjadi mahasiswa baru UGJ belum.....ituloh Universitas Swadaya Gunung Jati.... Dulu kalian mengenalnya dengan Unswagati

Diatas ada panduan cara mendaftar online via fasilitas BJB ya....? dan juga panduan untuk melakukan heregistrasi/registrasi bagi yang sudah dinyatakan Lulus....

Semoga kalian bisa lulus dengan jurusan/program studi yang dicita-citakan

Kuliah....kuyyy ke UGJ