Sampah tak Tertampung, Kepala Desa Penyangga Waduk Darma Butuh TPA

oleh -84 views

KUNINGAN, (SGOnline).-

Untuk mengatasi masalah sampah, desa-desa di wilayah Kecamatan Darma tentunya tidak bisa hanya mengandalkan tempat pembuangan sampah sementara (TPS) dan menunggu diangkut mobil-mobil pengangkut sampah dari BPLHD untuk dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Ciniru, Kecamatan Jalaksana. Maka dari itu, Kecamatan Darma membutuhkan TPA untuk mengatasi masalah sampah.

Hal ini terungkap saat diskusi santai antara Gema Jabar Hejo DPD Kuningan dengan beberapa kepala desa penyangga Waduk Darma yang berlangsung di aula Desa Jagara, Kecamatan Darma, Senin (2/12/2019).

Hadir dalam diskusi santai tersebut, kepala desa atau yang mewakili di antaranya Desa Jagara, Cipasung, Cikupa, Parung, Darma, Paninggaran, Sakerta Timur, Kawah Manuk, Paninggaran, Sakerta Barat, Karangsari dan Desa Sukarasa.

Ketua Gema Jabar Hejo DPD Kuningan, Daeng Ali mengatakan, kunjungan tersebut merupakan tahap kedua setelah survei awal yang dilakukan tim GJH Kuningan terhadap debit air dari desa penyangga yang menyusut, penumpukan sampah di pinggiran Waduk Darma dan pendataan masalah lingkungan yang sebenarnya terjadi.

“Kedatangan kami ke sini merupakan tahap kedua setelah kami melakukan survei lokasi tentang debit air dan sampah yang ada di sini. Sebab dalam waktu dekat kami akan melakukan revitalisasi mata air, dan reboisasi. Kondisi area sekitar daerah penyangga itulah yang membuat hati kami tergugah,” ujar Ali.

Ali mengemukakan, upaya-upaya yang akan dilakukan GJH selain survei dan pemetaan area kritis yang memiliki akses sebagai fungsi hydrologis, juga sebagai bahan kajian dan landasan bagi kegiatan rehabilitasi. GJH juga melakukan penanaman pohon secara terpadu dan berkesinambungan, maupun kegiatan lainnya yang berkaitan dengan kegiatan rehabilitasi alam.

“Kemudian langkah selanjutnya, kami akan melakukan sosialisasi secara sistematis kepada masyarakat dan pelajar mengenai pentingnya upaya pelestarian lingkungan alam. Termasuk berperan sebagai trigger (pemicu, Red) bagi tumbuhnya kepedulian terhadap lingkungan di masyarakat, serta menjadi mitra bagi pemerintah maupun kelompok peduli lainnya dalam kegiatan pelestarian alam,” tandas Ali.

Kepala Desa Jagara, Nana Sutiana mengatakan, permasalahan yang saat ini urgen di desa penyangga Waduk Darma adalah pengolahan sampah. Sebagai desa gerbang pembuka Wisata Darma, ia mengaku malu jika sampah berserakan di mana-mana. Kondisi itu dinilainya terjadi karena tata kelola sampah yang tidak pas dan kurangnya truk pengangkut sampah.

“Bayangkan saja kami hanya diberi satu truk yang datang untuk mengangkut sampah per tiga hari dalam seminggu, itu pun kalau tidak telat datang, bila telat sehari saja sampah sudah menggunung,” ujar Nana.

Sementara itu, Kades Parung Osa Maliki berharap ada anggaran dari pemerintah agar wilayah Kecamatan Darma memiliki TPA. “Diusahakan Kecamatan Darma punya TPA, karena ke depannya kan Darma menjadi destinasi wisata internasional, kalau tidak punya TPA tetap susah, dikasih dari BPLHD TPS hanya ukuran 4×3 meter, sampah menumpuk, katanya mau diambil tapi sampai sekarang belum, kami siapkan tempat dipinggir jalan tetap ga diambil,” keluhnya.

Para kepala desa berharap, dengan kedatangan GJH bisa membantu upaya rehabilitasi bagi lingkungan hidup yang saat ini mengalami degradasi dan menyampaikan keluhan masyarakat desa penyangga kepada pemerintah provinsi.

Menanggapi antusiasme para kepala desa penyangga, Dewan Pembina Gema Jabar Hejo Kuningan, Heni Susilawati mengemukakan, silaturahmi yang dilakukan ini sangat baik, terutama masalah dan kebutuhan kegiatan pembangunan di desa-desa Kecamatan Darma.

“Silaturahim tadi sangat baik, dalam mengenali masalah dan kebutuhan kegiatan pembangunan di desa-desa Kecamatan Darma dan beberapa saran masukan semestinya jadi perhatian pemerintah dan unsur pihak terkait dalam edukasi dan tata kelola sampah, serta perbaikan kualitas mata air dengan strategi reboisasi,” ungkapnya. (Andin/SGO)