Satu Keluarga di Kota Cirebon Hidup tanpa Listrik dan Makan Nasi Basi

oleh -3.354 views
foto: merdeka.com

CIREBON, (SGOnline).-

Di tengah gemerlap Kota Cirebon yang juga digadang-gadang sebagai kota metropolis, ternyata masih menyimpan ‘luka’ sebagian warganya. Potret kemiskinan masih belum bisa dihilangkan, karena ternyata masih ada warga kota yang hidup di bawah bayang-bayang kelaparan.

Seperti dialami Inah (33 tahun) bersama tiga anaknya. Kehidupan warga yang tinggal di Kampung Pesantren RT 02 RW 02, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon ini masih jauh dari kata layak. Ia hidup di rumah sepetak dan tak layak huni. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, Inah hanya mengandalkan belas kasihan tetangga di sekitarnya.

Inah bersama tiga anak dan ibu kandungnya hidup sudah lima tahun dan tinggal di rumah seukuran 4×3 meter persegi, tanpa listrik, tanpa kamar mandi dan berlantaikan tanah. Bila hujan, ia dan keluarga baru bisa mandi, tapi jika tidak maka berhari-hari mereka tak mandi.

Dari informasi yang didapat, Inah ditinggal pergi suaminya dan sampai saat ini keluarganya tak memiliki pekerjaan. Bila ada tetangga yang memberinya makan, maka akan dengan senang hati menerimanya, meskipun makanan bekas. Bahkan bila tidak ada makanan yang lain, nasi bekas/basi pun ia makan hanya untuk sekadar mengganjal perut laparnya.

“Ya selama ini hanya orang yang peduli saja. Bahkan sampai bantu urus KTP dan KK-nya,” kata salah seorang tetangga Inah, Nini Rusnaeni, kemarin.

Serba kekurangan

Nini mengaku, keterbatasan hingga kondisi keluarga Inah yang serba kekurangan menjadi alasan kuat untuk segera dapat bantuan baik dari Pemkot Cirebon, Pemprov Jabar dan pemerintah pusat.

Dari uluran tangan dan kepedulian tetangga lain, dua anak Inah masih mendapat kesempatan ikut sekolah paket. “Kami iba dan terus berusaha semampunya agar anaknya minimal bisa merasakan bangku sekolah walaupun paket,” ujar dia.

Dari informasi yang dihimpun, Inah merupakan warga miskin kota yang belum tersentuh pemerintah baik Kota Cirebon maupun pusat. Bantuan sosial seperti BPNT dan PKH tak pernah dirasakan Inah.

Padahal para tetangga di sekitar rumah Inah sudah berusaha keras membantu mengurus administrasi kependudukan. “Inah dan keluarga sudah memiliki KTP dan KK inisiatif tetangga agar dapat bantuan. Tapi kami tidak paham kenapa bantuan tak juga didapat padahal sudah diurus,” ujar dia.

Baznas membantu

Mendengar informasi tersebut, Baznas Kota Cirebon turun memberikan bantuan kepada keluarga Inah. Ketua Baznas Kota Cirebon, M Taufik menyampaikan, keluarga Inah sangat layak dibantu.

“Alhamdulillah kami lakukan asesmen dan hari ini bisa dibantu meskipun sedikit, Insya Allah kami akan bantu beberapa hal, kaitan dengan MCK, membantu masalah air, sembako sampai bisa terbantu,” kata dia.

Taufik juga mengaku sudah berkoordinasi dengan kelurahan, agar dibantu mendapatkan air hingga aliran listrik.

Sementara itu Lurah Kalijaga, Dewi Ratnawati mengakui, sistem pemerintahan dan administrasi yang dinilai sangat rumit menjadi salah satu alasan Inah dan keluarga tidak mendapat bantuan. “Butuh proses yang panjang sehingga sampai saat ini belum bisa diserahkan. Kami berterima kasih warga kami dibantu Baznas,” ujar Dewi.

Dewi mengaku hingga saat ini usulan kelurahan kepada Gubernur Jabar untuk membantu keluarga Inah belum ada kejelasan. “Tapi sudah kami usulkan ke Gubernur semoga saja segera turun,” ujar dia. (SGO)

Sumber: merdeka.com

Hayyyy  hallo..... Mas, Mba... Sis  Bro... dah pada daftar menjadi mahasiswa baru UGJ belum.....ituloh Universitas Swadaya Gunung Jati.... Dulu kalian mengenalnya dengan Unswagati

Diatas ada panduan cara mendaftar online via fasilitas BJB ya....? dan juga panduan untuk melakukan heregistrasi/registrasi bagi yang sudah dinyatakan Lulus....

Semoga kalian bisa lulus dengan jurusan/program studi yang dicita-citakan

Kuliah....kuyyy ke UGJ