Sejarah Desa Bode Kec. Plumbon Kab. Cirebon

oleh -301 views

SGOnline,

Tahun 1445 Masehi. Pangeran Walangsungsang (Mbah Kuwu Cirebon) setelah belajar agama islam diperguruan Amparan Jati, dengan Syekh Datul Kahfi sebagai gurunya menerima Mbah Kuwu Cerbon untuk segera dibawa dakwah islamiyah di semua tatar Cerbon. Diantaranya wilayah-wilayah yang dikunjunginya adalah wilayah Perdikan Plered, Megu dan Plumbon. Waktu itu dari persisir Lemahwungkuk sampai Perdikan Plered masih berada di dalam kekuasaan Kadipaten Wanagiri (Palimanan) Kerajaan Galuh. Setelah berhasil membawa dakwah islamiyah ke Ki Gede Plered, perjalanan menuju Perdikan Megu dan Ki Gede Megu pun menerima dakwah islamiyah secara sukarela. Dan pada saat itu, Ki Gede Megu meminta agar Mbah Kuwu Cerbon mengembalikan dakwah islamiyah ke Ki Gede Plumbon. Dan untuk menuju kesana agar menggunakan jalan pintas yaitu memotong jalan ke arah barat melewati hutan belantara yang masih asri dan belum terjamah oleh tangan manusia.Diceritakan, setelah masuk dalam hutan, karena waktu sholat dzuhur telah tiba, maka kompilasi menemukan sungai, Mbah Kuwu Cerbon mengambil air wudhu. Sampai sekarang sungai ini diberi nama Sungai Kaliwulu (sungai tempat berwudhu). Dan tempat bermuaranya sungai itu diberi nama Desa Kaliwulu.
Setelah berwudhu, Mbah Kuwu Cerbon mencari tanah yang lebih tinggi untuk menggunakan sholat dzuhur. Setelah ia melaksanakan sholat hajat dua rakaat, dan berdoa: “semoga wilayah hutan ini, yang airnya bening, segar dan udaranya sejuk ini agar tetap lestari. Dan kelak dikemudian hari, jika dihuni oleh anak cucunya, akan diberikan kesejahteraan, kebahagiaan, kejayaan, dan kebesaran berdasarkan Syareat Islam.
Setelah selesai shalat dzuhur, Mbah Kuwu Cerbon memberi nama hutan ini dengan nama HUTAN WANAJAYA, menambahkan hutan yang lestari dan jaya makmur sampai akhir jaman (sebagai bukti, sampai sekarang disebelah barat sungai Temiyang. Kampung halaman yang disebut Blok Wanajaya, yang sekarang dilihat demikian) termasuk ke dalam Desa Marikangen).
Peristiwa ini terjadi pada +/- Tahun 1445 Masehi, lalu Mbah Kuwu Cerbon melanjutkan perjalanan ke arah barat menuju wilayah Plumbon.Pada awal berdirinya Kerajaan Cerbon yaitu +/- Tahun 1479 Masehi, hutan Wanajaya, atas saran Mbah Kuwu Cerbon, oleh Sunan Gunung Jati selaku Raja Cerbon, hutan ini dipilih sebagai hutan lindung yang tidak boleh diganggu, seperti yang sudah dipilih sebelumnya 1000 tahun.

PERNIKAHAN PANGERAN WIRASABA DAN NYI MAS AYU NAINDRA LAMARAN SARI

Syahdan diceritakan, pada +/- Tahun 1574 Masehi, pada hari raya Idhul Fitri, Keraton Pakungwati Cerbon Pembimbing Panembahan Ratu seperti biasa dilakukan halal bi halal dan silaturrahmi baik yang di pusat maupun yang berbeda didaerah. Dan acara ini diadakan setelah Acara “Grebeg Syawal” yaitu tanggal 8 Syawal 994 Hijriyah.
Setelah silaturrahmi semua berbuah Sunan Gunung Jati Selesai, Panembahan Ratu mengumpulkan keluarga khusus Sunan Gunung Jati dari Nyi Tepasari, yaitu: Nyi Mas Wanawati Raras bersama anak-anak dan saudara-saudaranya. Para paman dan bibi dari anak-anakanya, yang merupakan keturunan Pangeran Pasarean, Pangeran Kesatrian, Pangeran Losari, Pangeran Swarga (sudah meninggal +/- Tahun 1568 Masehi., Maka ia tidak hadir. Pangeran Swarga dinobatkan sebagai Adipati Cirebon ke II ( dua) menyetujui persetujuan Pangeran Pasarean). Nyi Ratu Emas, Pangeran Wirasuta, Pangeran Sentana Panjuanan dan Pangeran Wiranegara / Pangeran Weruju.).
Dari pertemuan keluarga besar Sunan Gunung Jati dari Nyi Tepasari ini, salah satu butir keputusannya adalah persetujuan demi menyambung dan mengikat tali persaudaraan untuk keluarga Sunan Gunung jati dari Nyi Tepasari yang wilayahnya berjauhan, maka ikatan pernikahan antar keluarga Sunan Gunung Jati dari Nyi Tepasari.
Dan pada saat itu juga diputuskan, yaitu Pangeran Wirasaba anak dari Pangeran Swarga dan Nyi Wanawati Raras atau juga merupakan adik kandung Panembahan Ratu akan dinikahkan dengan Nyi Mas Ayu Naidra Lamaran Sari, anak bungsu dari Pangeran Losari dan Nyi Silih Asih.
Maka pada hari jumat, ba’da sholat jumat tanggal 5 Desember 1574 Masehi, maka bertepatan dengan tanggal 11 Syawal Tahun 994 Hijriyah, diadakan pernikahan antara pangeran Wirasaba (Putra Pangeran Swarga) yang dipilih 23 tahun dengan Nyi Mas Ayu Naidra Lamaran Sari (Putri Pangeran Losari) yang juga dibatalkan 23 tahun.
Penembahan Ratu sebagai saudara kandung Pangeran Wirasaba, merasa sangat bahagia. Dan untuk membuktikan kebahagiaan itu, ia berkenan memberikan hadiah kepada kedua mempelopori sebuah hutan, Hutan Wanajaya dan Kerbau Bule Raksasa, bukan untuk menghemat dana untuk mengelola tenaganya dalam rangka untuk membuka kawasan hutan tersebut kelak.

KEPERIBADIAN PANGERAN WIRASABA DAN NYI MAS AYU NAINDRA LAMARAN SARI

Pangeran Wirasaba dan Nyi Mas Ayu Naindra Lamaran Sari tidak berbeda satu sama lain masing-masing 23 tahun, namun mental dan kepribadiannya jauh lebih tinggi, ini disebabkan karena ada kaitannya dengan latar belakang dan pengalaman hidup yang sangat berbeda. Pangeran Wirasaba adalah anak Adipati atau adik kandung Panembahan Ratu (Raja Cirebon Ke II), yang tentu saja senang dengan kebahagiaan dan serba kecukupan, maka sifat manja dan kurang teruji mentalnya sangat disukai. Sementara Nyi Mas Ayu Naidra Lamaran Sari, meskipun putri dari Adipati di Losari namun ia tekun belajar dan senang bekerja dan sudah biasa melakukan pekerjaan itu sendiri. Pelajaran dan pekerjaan yang beliau tekuni adalah bidang pertanian. Sesuai dengan kondisi wilayah Losari yang tanah pertaniannya lebih luas dari tanah daratannya. Ditambah lagi, dirilis yaitu Pangeran Losari atau Pangeran Angkawijaya, menggembleng sepenuhnya dibidang pertanian ini. Dia tidak bertanggung jawab sebagai anak pembesar, lebih suka mendidiknya seperti layaknya anak dari orang biasa, sulit sekali (Nyi Mas Ayu Naidra Lamaran Sari) tumbuh sebagai anak tegar, tidak manja, mandiri dan pekerja keras.

BABAD HUTAN (ALAS) WANAJAYA DAN BERDIRINYA PEDUKUHAN BODE

Setelah masa bulan madu adiknya (kedua mempelai) telah mencapai tujuh bulan, Panembahan Ratu (Raja Cerbon ke II) sebagai berikut, Pangeran Wirasaba dan Nyi Mas Ayu Naindra Lamaran Sari, untuk segera pergi dan membentuk pedukuhan.
Pada hari selasa pagi, tanggal 1 Juli 1575 Masehi atau bertepatan dengan tanggal 30 Rabiul Akhir tahun 995 Hijriyah, dengan didampingi oleh izin (Nyi Mas Wanawati Raras) dan adik neneknya (Nyi Mas Gandasari) yang masih perkasa karena usianya sudah menacapai 75 tahun. Yang sekaligus pula wakil dari Panembahan Ratu yang akan meresmikan Pedukuhan dan melantik kepala Dukuhnya, berangkat menuju hutan Wanajaya, dengan diikuti oleh dua regu prajurit keraton yang masing-masing dipimpin oleh Raden Bayabadra dan Raden Jumantri. Para prajurit inilah yang akan bekerja untuk menebang hutan yang luasnya mencapai 5 hektar, sesuai ukuran sekarang.
Dalam rombongan itupun ikut pula adik dari Nyimas Wanawati yaitu Pangeran Sedang Garuda atau yang dikenal dengan sebutan Ki Ageng Mantro dan sahabat karibnya bernama Tuan Ahmad. Tuan Ahmad adalah saudagar dari arab yang juga seorang Da’i (penyebar agama islam). Kehadirannya atas restu dan atas permintaan Penembahan Ratu untuk membina umat islam di wilayah baru itu.

Atas petunjuk dari Panembahan Ratu, rombongan ini memulai perjalanannya dari rumah Ki Gede Kaliwulu menuju hutan Wanajaya dengan menyusuri sungai Kaliwulu. Tempat utama yang dituju adalah tempat dimana dulu Mbah Kuwu Cerbon sholat dan bermunajat bagi Allah SWT, yaitu dataran tinggi yang agak tinggi, banyak ditumbuhi pohon rindang, berhawa sejuk, berair bening dan segar.
Rombongan terdepan adalah para prajurit yang berjalan kaki, diikuti keluarga Keraton yang menaiki kuda berjalan pelan karena melewati sungai yang masih banyak ditumbuhkan pembohong, yang harus dibabad terlebih dahulu oleh para prajurit. dan dibelakangnya ada putra Ki Gede Kaliwulu yang menjadi petunjuk jalan, yang berjalan sambil menuntun KERBAU BULE RAKSASA (Kebo Gede, Bahasa Jawa) hadiah pernikahan dari Panembahan Ratu. Selang beberapa waktu sebelum dzuhur, lokasi yang dicari sudah ditemukan. Nyi Mas Gandasari lalu naik ke dataran tinggi dan bersujud syukur ke hadirat Allah SWT.

Benar apa yang disetujui ramanya, yaitu Mbah Kuwu Cerbon yang sekarang sudah wafat, itu tempat yang sangat sejuk dan airnya bening segar.
Usai sujud syukur, Nyi Mas Gandasari selaku pemimpin rombongan menerima prajurit dan anggota rombongan lainnya untuk menerima. Seorang prajurit yang mungkin diminta dari Tegal disetujui oleh rekan-rekannya yang didukung: ayo kabeh pada glelengan! (mari semuanya beristirahat sambil tiduran), ucapan itu sampai terdengar oleh Nyi Mas Gandasari. Setelah itu dia berkata: “Wahai sekalian, saksikan, bukit ini mulai sekarang aku beri nama Bukit Gleleng”
Nama Gleleng sampai sekarang menjadi tempat pemakaman umum, yaitu TPU Si Gleleng. Sementara tempat berkholwatnya Mbah Kuwu Cerbon dan tempat sujud Syukurnya Nyi Mas Gandasari, oleh masyarakat setempat bernama Maesan Watu, karena ditempat itu sekarang berisi petilasan yang berisi kuburan atau makam yang bernisan dari batu.
Bukit Gleleng oleh Nyi Mas Gandasari dibuat posko pembukaan / penebangan hutan Wanajaya. Sementara untuk tempat tinggal keluarga keraton dan para prajurit membuat rumah dan barak-barak disebelah timur sungai. Lalu Nyi Mas Gandasari memberi nama lokasi itu dengan nama: “UMAH RINTIS” yang artinya: “Rumah Pertama”. Masyarakat sekarang membahas Tumarintis.
Pagi, hari rabu tanggal 2 Juli tahun 1575 Masehi atau 995 Hijriyah, Nyi Mas Gandasari. Memimpin para prajurit menebang hutan disebelah barat bukit Gleleng dan Nyi Mas. Nyi Mas Ayu Naindra Lamaran Sari mengeluarkan Periuk Tanah Besar (Pendil Besar, bahasa jawa) yang merupakan pemberian dari Ibu nya yang bernama Nyi Silih Asih. Pendil besar ini agak antik. Karena nasi yang ditanak cepat dimasak dan nasinya mekar, jadi-olah nasi ini tidak habis-habis dimakan oleh semua anggota rombongan.
Sementara itu, putra Ki Gede Kaliwulu sibuk menjalankan tugasnya sebagai seorang ahli kayu, yaitu membikin bajak (weluku, bahasa jawa). Yang akan digunakan untuk membajak sawah yang luasnya lebih +/- 5 hektar untuk ukuran sekarang. Bajak sengaja dibuat agak besar, karena yang akan menariknya adalah permainan Kerbau Bule Raksasa. Panjang sawah yanga akan dibikin rencananya adalah 1000 depa atau 500 meter, sedangkan lebarnya tidak ditentukan, hanya saja bila nanti ditemukan saluran udara maka penebangan dipindahkan sampai disitu.

Dua hari kemudian, hutan yang disiapkan untuk lahan sawah telah selesai dan bersih, tinggal dibajak saja.
Pagi, hari jumat tanggal 4 Juli tahun 1575 Masehi, Nyi Mas Gandasari mengistirahatkan prajurit-prajuritnya, karena para prajurit rombongan yang akan mengerjakan sholat jumat.
Setelah shalat jumat, pekerjaan pembajakan sawah segera dimulai. Pekerjaan ini sangat berat, karena dengan bajak harus diselesaikan sawah yang luasnya hampir 5 hektar, dalam 1 hari 1 malam.

Hari sabtu sakit, saat waktu ashar tiba pembajakan sawah selesai sudah. Kerbau Bule Raksasa yang sangat perkasa dan berjasa itu sangat melelahkan dan kecapean. Dan tanpa permisi untuk pergi si kerbau pergi meninggalkan rombongan, pergi kearah selatan menyusuri sungai kecil yang merupakan perbatasan sawah dan daratan disebelah baratnya, hingga ke mata airnya, terdiri dari belik (mata air) yang sampai sekarang, oleh masyarakat setempat belik “Ki Bean”.
Karena terlalu lelah dan capeknya, Kerbau Bule Raksasa yang sangat perkasa dan berjasa itu berkubang sampai tertidur ditempat itu. Tanah belik yang dikubangi Sang Kerbau hingga ambles, hingga tapaknya hingga sekarang masih dapat dilihat (di blok Kedung Gondang, Desa Bodelor).

Sementara itu, Nyi Mas Gandasari yang sedang berkumpul dengan seluruh rombongan, baru sadar bahwa sang Kerbau Bule Raksasa telah kehilangan entah kemana. Kerbau Wasiat hadiah dari Panembahan Ratu itu jelas tidak pernah hilang, lebih disukai sampai dimakan binatang buas. Nanti apa kata Panembahan Ratu. Untuk itu harus diminta sampai bisa karena rencananya peresmian pedukuhan dan pelantikan kuwu akan diadakan setelah sholat isya, hari itu juga.

Setelah ditanyakan tentang itu, barulah datang salah seorang prajurit dengan tergopoh-gopoh mengadaptasikan dan melaporkan kepada Nyi Mas Gandasari, yang telah menemukan sang kerbau saat berkubang sambil tertidur, apakah masih hidup atau tidak. mendengarkan laporan itu Nyi Mas Gandasari segera menuju tempat yang diminta oleh prajurit tersebut. Betul juga apa yang disampaikan oleh prajurit tadi, itulah sang kerbau sedang berkubang sambil tertidur. Merasa ada tuannya datang ditempat itu, sang kerbau terbangun dan menghampiri Nyi Mas Gandasari. Lalu Nyi Masa Gandasari menuntun Sang Kerbau Bule Rakasasa menuju tempat itu.

Setelah shalat magrib, Nyi Mas Gandasari mengumpulkan keluarga keraton dan memusyawarahkan tentang apa nama pedukuhan yang telah dimulai penebangannya itu.
Hasil yang ditawarkan, karena layanan besar Kerbau Bule Raksasa yang telah membajak sawah, dan untuk mengenang layanan Kerbau Bule Raksasa tersebut, maka pedukuhan itu disebut dengan nama pedukuhan “KEBO GEDE” (Kerbau Besar, bahasa Indonesia).
Namun untuk memudahkan penyebutannya, maka di singkat menjadi “BODE” kepala pedukuhannya disebut Ki Kuwu Bode, dan setelah pedukuhan ini berubah menjadi tanah perdikan, sebutan Ki Kuwu Bode berubah menjadi Ki Gede Bode. Dan sawah yang baru dibuka itu, yang merupakan tanah kelungguhan atau tanah bengkok untuk istirahat sekarang, diberi nama: “SAWAH GEDE”.
Dan detik-detik yang ditunggu-tunggu telah tiba, yaitu pelantikan kepala pedukuhan dan peresmian pedukuhan baru yang berada di bawah kekuasaan kerajaan cirebon.

Upacara dimulai, para prajurit dan rombongan lainnya berbaris bershaf. Nyi Mas Gandasari berdiri menghadap menghadap ke arah barisan upacara tadi. Dibelakangnya berdiri sambil berbaris bersama keluarga keraton dan tak lupa bernyanyi Kerbau Bule Raksasa yang gagah perkasa berdiri tegak disamping agak kebelakang Nyi Mas Gandasari.

Dan Nyi Mas Gandasari menyampaikan pengumuman resminya. “Wahai para prajurit, dengan kombinasi rasa syukur kepada Allah SWT, dengan ucapan selamat bismillahirrahmanirrahiim pada hari ini, sabtu tanggal 5 Juli 1575 Masehi Ba’da isya bertukar dengan tanggal 4 Jumadil awal tahun 945 Hijriyah, saya dapat mengunjungi nama-nama seperti Cirebon, Panembahan Ratu, meresmikan pedukuhan ini dengan nama “PEDUKUHAN BODE” dan melantik Pangeran Wirasaba sebagai Kuwu Bode pertama.

Setelah upacara selesai, semua disetujui selamat. Dan bersama-sama mengadakan sujud syukur dan berdoa agar “BODE” menjadi pedukuhan yang makmur, sentosa, sejahtera dan diberuniai segala kebesaran oleh Allah SWT. (R Imam P/SGO)