Sejarah Desa Rajagaluh Kec. Rajagaluh Kab. Majalengka

oleh -1.368 views

(SGOnline)

Rajagaluh merupakan sebuah Kerajaan dibawah wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi.

Saat itu Kerajaan Rajagaluh dibawah tampuk pimpinan seorang raja yang terkenal digjaya sakti mandraguna. Agama yang dianutnya adalah agama Hindu.

Pada tahun 1482 Masehi, Syeh Syarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati) mengembangkan agama Islam di Jawa Barat dengan secara damai. Namun dari sekian banyak kerajaan di tatar Pasundan hanya Kerajaan Rajagaluh yang sulit ditundukan.

Setelah Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebaskan, namun untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakra Ningrat dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke Kuningan, namun ternyata adipati Kuningan yang bernama Adipati Awangga menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran.

Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya sama-sama digjaya. Kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai Desa Jalaksana yang artinya “jaya dalam melaksanakan tugas”.

Perang tanding tersebut dapat didengar oleh Syeh Syarif Hitayatulloh yang kemudian beliau mengutus anaknya Arya Kemuning yang dikenal sebagai Syeh Zainal Akbar alias Bratakalana untuk membantu Adipati Awangga dalam perang tanding. Dengan bantuan Arya Kemuning, akhirnya Adipati Arya Kiban dapat dikalahkan. Adipati Arya Kiban melarikan diri dan menghilang didaerah persawahan disekitar Talaga Remis, sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian lagi dapat meloloskan diri kembali ke Rajagaluh.

Semenjak kejadian tersebut Kerajaan Rajagaluh segera menghimpun kekuatannya kembali untuk memperkokoh pertahanan manakala ada serangan dari Kerajaan Cirebon.
Sebagai pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuklah Arya Mangkubumi, Demang Jaga Patih, Demang Raksapura, dan dibantu oleh Patih Loa dan Dempu Awang yang keduanya berasal dari tatar / dataran Cina.

Syeh Syarif Hidayatulloh melihat Kerajaan Rajagaluh dengan mata hatinya berkesimpulan bahwa prajurit Kerajaan Cirebon tidak akan mampu menaklukan Rajagaluh kecuali dengan taktik yang halus. Hal ini mengingat akan kesaktian Prabu Cakra Ningrat. Akhirnya Syeh Syarif Hidayatulloh mengutus 3 (tiga) orang utusan yakni Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol serta diikuti ratusan prajurit.

Pengiriman utusan dari Cirebon dengan segera dapat diketahui oleh Prabu Cakra Ningrat, beliau pun segera menugaskan Patih Loa dan Dempu Awang untuk menghadangnya. Saat itu pun terjadilah pertempuran sengit, namun prajurit Cirebon dapat dipukul mundur. Melihat prajurit Cirebon kucar-kacir maka majulah Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol, terjadilah perang tanding melawan Patih Loa dan Dempu Awang. Perang tanding tidak kunjung selesai karena kedua belah pihak seimbang kekuatannya, yang akhirnya pihak Cirebon tidak berani mendekati daerah Rajagaluh, begitu pun sebaliknya.

Atas kejadian ini Prabu Cakra Ningrat segera mengutus Patih Arya Mangkubumi ditugaskan untuk menancapkan sebuah Tumbak Trisula pada sebuah lubuk sungai disekitar tempat terjadinya perang tanding. Akibat tancapan tombak tersebut serta merta air sungai tersebut berubah menjadi panas dan dapat membahayakan bagi prajurit Cirebon manakala menyeberanginya. Kejadian tersebut mengundang amarah puhak Cirebon, lalu Nyi Mas Gandasari cepat bertindak. Dengan kesaktiannya ia mengencingi sungai tersebut, serta merta air sungai pun tidak berbahaya lagi walaupun airnya tetap panas. Tempat kejadian tersebut sekarang dikenal dengan nama Desa Kedung Bunder.

Setelah kejadian itu Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan serta prajuritnya berupaya mendekati kota Rajagaluh, kemudian rombongan mereka berhenti ditepian kota Rajagaluh, membuat perlindungan serta tempat pengintaian. Tempat tersebut berada disekitar Desa Mindi yang sekaran dikenal dengan Hutan Tenjo.
Pada saat yang bersamaan Syeh Syarif Hidayatulloh mengutus pula Nyi Mas Gandasari. Ia ditugaskan untuk menggoda Prabu Cakra Ningrat dengan harapan Nyi Mas Gandasari dapat mencuri Zimat Bokor Mas (Kandaga Mas) sebagaizimat andalan kesaktian Prabu Cakra Ningrat.

Saat mendekati wilayah Rajagaluh Nyi Mas Gandasari menyamar sebagai pengemis dan ia luput dari pengawasan prajurit Rajagaluh. Begitu masuk pinggiran kota Rajagaluh, peran penyamarannya dirubah menjadi ronggeng keliling. Pinggiran kota tersebut sekarang dikenal sebagai Desa Lame.

Gerak-gerik penyamaran Nyi Mas Gandasari tidak terlepas dari pengawasan dan pengintaian Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan. Ketenaran Nyi Ronggeng begitu cepat meluas baik dari kecantikannya maupun lemah gemulai tariannya yang mempesona. Berita ketenaran Nyi Ronggeng sampai pula ke istana. Dengan penuh penasaran Prabu Cakra Ningrat memanggil Nyi Ronggeng ke istana. Usai Nyi Ronggeng memperlihatkan kebolehannya, tanpa diduga sebelumnya ternyata Sang Prabu Cakra Ningrat langsung terpikat hatinya. Gelagat perubahan yang terjadi pada Prabu Cakra Ningrat segera diketahui oleh anaknya Nyi Putri Indangsari. Dinasehatilah ayahnya agar jangan terpikat oleh Nyi Ronggeng. Namun, nasehat Nyi Putri Indangsari ternyata diacuhkannya, bahkan Sang Prabu berkenan mengajak Nyi Ronggeng masuk ke istana malahan beliau mengajak tidur bersama.

Nyi Ronggeng menolak ajakan terakhir dari Sang Prabu Cakra Ningrat. Nyi Ronggeng pun dapat mengabulkan permintaan beliau untuk tidur bersama dengan syarat Prabu Cakra Ningrat terlebih dahulu memperlihatkan zimat andalannya yaitu Bokor Mas.
Syarat tersebut disetujui oleh Sang Prabu, maka diperlihatkanlah zimat yang dimaksud, serta merta dirabalah zimat tersebut oleh Nyi Ronggeng.

Bertepatan dengan itu tiba-tiba Sang Prabu ingin buang air kecil, maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nyi Ronggeng. Bokor Mas langsung diambil dan dibawa lari saat Sang Prabu buang hajat kecil. Di luar istana Nyi Mas Gandasari dihadang oleh seekor banteng besar penjaga istana, namun dengan kesaktiannya ia dapat lolos dari amukan banteng tersebut.

Kejadian tersebut segera terlihat oleh Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawannya, banteng itu pun ditebasnya dengan pedang sampai putus lehernya. Kendati kepalanya sudah terpisah dari badannya namun kepala banteng tersebut masih bisa mengamuk menyeruduk membabi buta namun akhirnya kepala banteng tersebut terkena tendangan Syeh Magelung Sakti sehingga melayang dan jatuh didaerah Ciledug yang sekarang dikenal dengan nama Desa Hulu Banteng. Sedangkan badannya lari kearah utara sampai akhirnya terjerembab ke sebuah Lubuk Sungai. Sekarang dikenal sebagai Desa Leuwimunding.

Prajurit Cirebon terus menyerbu kota Rajagaluh, pertahanan Rajagaluh sudah lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat sendiri melarikan diri ke kota Talaga bergabung dengan Prabu Pucuk Umun, yang kemudian keduanya pergi menuju Banten (Ujung Kulon).

Sementara anaknya, Nyi Putri Indangsari tidak ikut serta bersama ayahnya karena rasa jengkel sebab saran-sarannya Nyi Putri Indangsari tidak didengar oleh ayahnya. Nyi Putri Indangsari sendiri malah pergi ke sebelah utara yang sekarang dikenal sebagai Desa Cidenok. Di Cidenok Nyi Putri tidak lama, ia teringat akan ayahnya. Nyi Putri sadar apapun kesalahan yang dilakukan oleh Sang Prabu Cakra Ningrat. Sang Prabu adalah ayah kandungnya yang sangat ia cintai. Ia pun berniat menyusul ayahnya, namun ditengah perjalan Nyi Putri dihadang oleh prajurit Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Birawa. Nyi Putri Indangsari dan pengawalnya ditangkap dan diadili. Pengadilan akan membebaskan hukuman bagi Nyi Putri dengan syarat bersedia memeluk agama Islam. Akhirnya semua pengawalnya mau memeluk agama Islam tapi Nyi Putri sendiri menolaknya, maka Nyi Putri Indangsari ditahan disebuah gua.

Alkisah menghilangnya Adipati Arya Kiban yang cukup lama akibat kekalahannya oleh Adipati Awangga saat perang tanding, ia timbul kesadarannya untuk kembali ke Rajagaluh menemui Prabu Cakra Ningrat untuk meminta maaf atas kekalahannya, namun yang ia dapatkan hanyalah puing-puing kerajaan yang telah hancur luluh. Ia menangis sedih penuh penyesalan, ia merenungkan nasibnya dipinggiran kota Rajagaluh. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan nama Batu Jangkung (Batu Tinggi). Di tempat itu pula akhirnya Adipati Arya Kiban ditangkap oleh prajurit Cirebon, kemudian ditahan / dipenjarakan bersama Nyi Putri Indangsari disebuah gua yang dikenal dengan Gua Dalem yang berada di daerah Kedung Bunder, Palimanan.

Dikisahkan bahwa Nyi Putri Indangsari dan Adipati Arya Kiban meninggal di gua tempat mereka dipenjarakan (Gua Dalem), kisah lain mengatakan bahwa mereka berdua menghilang.