Suka Duka Lie Le Hwa, Sang Legenda Pembuat Beragam Manisan dan Kue di Cirebon

oleh -1.558 views
Lie Le Hwa

ADA sebuah kalimat bijak yang mengatakan, 孩子成功的背后是母亲的祈祷. Hái zǐ chénggōng de bèihòu shì mǔqīn de qídǎo. Artinya, di balik kesuksesan seorang anak ada doa ibu.

Perjuangan seorang ibu untuk membesarkan serta mencukupi kebutuhan rumah tangga buah hatinya, adalah perjuangan yang sangat istimewa. Mereka yang dulu remaja di tahun 70-an, pasti mengenal manisan mangga, manisan ciremai dan rambusa.

Sebagian dari kita, mungkin mengenal nama Lie Le Hwa. Ia tinggal di Pamujudan. Beliau adalah salah satu legenda pembuat jajanan pasar, seperti resoles, buras, manisan ciremai, mangga, manisan rambusa, kue kering, kroket dan lain lain.

Lie Le Hwa merupakan ibu kandung Pendeta Ujang Tanusaputra yang saat ini melayani di GKI Cimahi dan Wijaya Tanusaputra. Lie Le Hwa, lahir di Situraja Sumedang pada 1932.

Dikaruniai 8 anak

Sekitar tahun 1948-an pindah ke Cirebon. Tahun 1954, menikah dengan Tan Tjioe Kwie. Dari hasil pernikahannya, mereka dikaruniai 8 anak, tetapi 3 di antaranya meninggal dunia. Lie Le Hwa mulai berjualan sejak tahun 1960-an untuk menambah penghasilan demi menyambung hidup dan biaya sekolah anak-anaknya.

Lie Le Hwa membuat manisan, kue kering, buras, kroket, dan risoles dan dijajakan beberapa orang secara berkeliling. Sebagian dititipkan di sejumlah toko kue. Banyak pelanggan yang menyukai rasa kue dan manisan bikinan Lie Le Hwa, tetapi soal rasa semua tergantung selera pembeli.

Kue yang dijual dengan sistem konsinyasi. Artinya kalau tidak habis terjual maka dikembalikan. Saat cuaca buruk atau karena satu dan lain hal, maka banyak yang tersisa. Bukannya meraup ntung, balik modal pun tidak.

Namun Tuhan membuka pintu rejeki melalui pesanan untuk berbagai acara, mulai 10, 20, 50 dan seterusnya. Bahkan sesekali pernah jumlah pesanan 100, 200, 500 dan 1.000. Namun karena faktor usia, sekarang sudah tidak berjualan. Beliau kini tinggal bersama anak tertua dan menantunya di Losari.

Diteruskan anaknya

Dua anaknya yang lain, Dina di Kegiren dan Eka di Wirasari. Merekalah yang melanjutkan membuat kue dalam skala rumahan. Anak-anak Lie Ie Hwa, bernama Tan Se Liu, Tan Se Kwa, Tan Hok Tjiang (Pdt Ujang Tanusaputra), Tan Hok Wi (Wijaya Tanusaputra) lulusan SMA BPK Penabur angkatan 90.

Lie Ie Hwa menjadi anggota jemaat Gereja Filadelfia pimpinan Pendeta Paul Daniel Massie. Semasa tua, Lie Ie Hua diisi dengan banyak mendoakan anak cucu. Doa seorang ibu manjur dan sangat besar kuasanya untuk kesuksessan anak cucunya.

Lie Ie Hwa merupakan sosok ibu yang sangat sayang keluarganya dan selalu mendoakan kebaikan untuk mereka semua. Ia berjuang mencukupi kebutuhan anak-anaknya dengan menjual aneka manisan, kue kering dan kroket.

为了孩子的成功,母亲的祈祷是有力而有力的 Wèile háizi de chénggōng, mǔqīn de qídǎo shì yǒulì ér yǒulì de. Artinya, doa seorang ibu manjur dan besar kuasanya, bagi keberhasilan seorang anak. (*)

Oleh Jeremy Huang

Hayyyy  hallo..... Mas, Mba... Sis  Bro... dah pada daftar menjadi mahasiswa baru UGJ belum.....ituloh Universitas Swadaya Gunung Jati.... Dulu kalian mengenalnya dengan Unswagati

Diatas ada panduan cara mendaftar online via fasilitas BJB ya....? dan juga panduan untuk melakukan heregistrasi/registrasi bagi yang sudah dinyatakan Lulus....

Semoga kalian bisa lulus dengan jurusan/program studi yang dicita-citakan

Kuliah....kuyyy ke UGJ