Terawangan Batin, Tikungan KUA Kadugede Konon Jadi Perlintasan Jalur Air Gaib

oleh -929 views


KUNINGAN, (SGOnline).-

Kecelakaan tunggal yang terjadi di Jalan Raya Desa/Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ternyata kerap menelan korban jiwa. Terakhir menimpa penumpang Suzuki minibus nopol E-8969-VM, Mamat Rohmat (36 tahun) yang meninggal dunia setelah mobil yang dikemudikan Beni (29 tahun) menabrak pohon di jalur tersebut. Sedangkan Beni menderita luka berat, Minggu (10/5/2020) pagi.

Berdasarkan keterangan warga sekitar, Kusnadi dari Desa Ciketak, Kecamatan Kadugede, di jalan yang biasa disebut pengkolan KUA ini, ternyata seringkali menelan korban jiwa, rata-rata korbannya meninggal dunia di tempat.

“Wah di pengkolan KUA itu memang sering terjadi kecelakaan dan korbannya banyak yang meninggal dunia, bahkan saat saya dulu bekerja sebagai keamanan rakyat (kamra, Red) yang kebetulan saat itu kebagian tugas jaga di sana,” tutur Kusnadi

Kusnadi pun menceritakan, saat ia bertugas di tikungan tersebut pada tahun 1999 hingga 2000, ia seringkali melihat laka lantas dan korbannya kebanyakan tewas di tempat.

Hal yang sama dibenarkan, Deni Alhadid, warga Lingkungan Wage, Desa Kadugede, Kecamatan Kadugede, yang juga sering melihat laka lantas di tikungan tersebut dan korbannya meninggal di tempat. “Itu bisa jadi dikarenakan, alur jalan yang tidak rata, juga tidak adanya drainase di sisi jalan aspal, sehingga membuat jalan licin, lihat saja paritnya berjarak satu meter dari jalan,” ujar Deni.

READ  Anggota Koramil 1513/Garawangi Gelar Gakplin di Depan Terminal Kertawangunan

Deni pun menambahkan apabila hujan, lumpur dan air sering menggenangi jala. Hal itulah yang mungkin menyebabkan kecelakaan bagi pengguna jalan.

Sisi spiritual

Selain itu, Deni mengisahkan, dari sisi spiritual, pengkolan KUA, merupakan salah satu jalur urat air yang mengalir ke Pangandaran. “Yang saya tahu, itu mah jalur urat cai dari Ciremai ke Pangandaran,” ujar Deni.

“Tapi jalur air itu, hanya bisa dilihat orang yang memiliki mata batin atau indera keenam. Makanya saran saya bila lewat tikungan itu, harus hati-hati, jiga jalan dina cai kudu ati-ati ulah gurunggusuh bisi ti soledat (kayak jalan di dalam aliran air, harus hati-hati, tidak boleh tergesa-gesa takut terpeleset, Red),” tutur Deni.

Deni pun berpesan kepada para pengguna jalan agar selalu kurangi kecepatan saat melintas dan berkendaraan, di mana pun dan kapan pun, terutama di tikungan KUA. (Andin/SGO)